Just another WordPress.com site

Posts tagged “pandangan masyarakat terhadap euthanasia

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP EUTHANASIA

A.   Sejarah Euthanasia

Dari zaman Yunani kuno sudah dikenal tentang Euthanasia, pada zaman Yunani Romawi, penekanan Euthanasia ditekankan pada kehendak manusia untuk melepaskan diri dari penderitaan terutama yang mengalami penyakit parah. Selain itu ada kondisi yang memungkinkan untuk terjadinya Euthanasia yaitu tradisi kurban, alasannya yaitu motivasi pribadi untuk berkurban dan pribadi yang mau memberikan dirinya untuk sesamanya.

Tapi  tidak semua pemikir zaman ini sepakat dengan Euthanasia seperti Pytagoras yang melawan tindakan ini yang berpendapat bahwa hidup manusia mempunyai nilai keabadian, dan Euthanasia merupakan tindakan yang tidak menanggapi arti hidup manusia. Sama halnya dengan Aristoteles yang bertentangan dengan gurunya yang bersimpati terhadap Euthanasia dengan alasan bahwa hidup manusia itu bernilai luhur.

Pada tuhun 1920 ada sebuah buku yang sangat populer dengan judul The Permision to Destroy Life unworthy of life. Ditulis oleh seorang psikiatri dari Freiburg bernama Alfredn Hoche dan seorang profesor hukum dari Universitas Leipsig yang bernama Karl Binding. Mereka berpendapat bahwa tindakan membantu seseoarang yang mengalami kematian adalah masalah etika tingkat tinggi yang membutuhkan pertimbangan yang tepat, yang merupakan solusi belas kasihan atas masalah penderitaan.

Di Inggris pada tahun 1935 seorang Dokter membentuk The Voluntary Euthanasia Legislation Society, untuk melegalisasi Euthanasia bersama dengan dokter-dokter terkenal lainnya. Namun  rancangan ini kemudian di tolak oleh Dewan Lord setelah melalui perdebatan di House Of Lord pada tahun 1936. Di Jerman kekuasaan Adolf Hitler memeritahkan untuk melalukan tindakan Mercy killing secara luas yang dikenal dengan “Action T4” untuk menghapus kehidupan orang yang dianggap tak berarti dalam kehidupan (Life Under Worty of Life).

Di Australia tahun 1995, Australia Northem Territority menyetujui RUU Euthanasia dan berlaku pada tahun 1996 dan dijatuhkan oleh parlemen Australia pada tahun 1997. sedangkan di Oregon negara bagian AS mengelurkan death with dignity Law satu undang-undang yang memperbolehkan dokter menolong pasien yang dalam kondisi terminally ill untuk melakukan bunuh diri, sampai pada tahun 1998 sudah ada 100 orang mendapatkan Assisten Suicide. Hal ini terus diperdebatkan di Amerika dan pada tahun 1998 Oregon melegalisis Asisten Suicide dan itu satu-satunya di negara bagian Amerika yang melegalkan Euthanasia.

Di Belanda pada tahun 2000 melegalkan Euthanasia Aktif  Voluntir ini mendapat berbagai sorotan dari organisasi anti Euthanasia dan juga dari organisasi pro Euthanasia. Seperti Rita Marker dari ADIWIDIA edisi Desember 2010 No. 1 “Internasional Againts Euthanasia task force“ apakah sekarang sebuah kejahatan akan diganti dengan perawatan” sedangkan Tamara Langley dari The UK voluntary Euthanasia Society menganggapin sebagai suatu perkebangan, orang-orang mengambil keputusan yang mereka buat sendiri. Ebger dari Cristian union mengatahkan “bahwa undang undang ini adalah kesalahan sejarah”.

Tahun 2002 giliran Belgia melegalisir Euthanasia seperti di Belanda. Di Belgia menetapkan kondisi pasien yang ingin mengakhiri hidupnya harus dalam keadaan sadar. Saat penyataan itu dibuat dan menanggulangi permintaan mereka untuk Euthanasia. Sedangkan di Swiss Euthanasia masih ilegal tetapi terdapat tiga organisasi yang mengurus permohonan tersebut dan menyediakan konseling dan obat-obatan yang dapat mempercepat kematian.

Di asia Jepang adalah satu-satunya negara yang melegalkan Euthanasia Voluntir yang disahkan melalui keputusan pengadilan tinggi pada kasus  Yamaguchi di tahun 1962. Namun setelah itu karena faktor budaya yang kuat Euthanasia tidak pernah terjadi lagi dijepang setelah itu.

B.   Pengertian Euthanasia.

Euthanasia berasal dari bahasa Yunani yaitu Eu, yang berarti Indah, bagus, terhormat atau Gracefully and With Dignity, dan Thanatos yang berarti mati. Jadi secara etimologis, euthanasia dapat diartikan sebagai mati dengan baik.

Euthanasia dalam Kamus Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai “kematian yang lembut dan nyaman, dilakukan terutama pada kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan”. Sedangkan dalam Kamus Kedokteran Dorland euthanasi mengandung dua pengertian, yaitu:

1.    Suatu kematian yang mudah dan tanpa rasa sakit.

2.    Pembunuhan dengan kemurahan hati, pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita dan tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan, secara hati-hati dan disengaja.

C.   Jenis-Jenis Euthanasia

Bila ditinjau dari cara pelaksanaannya, eutanasia dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu eutanasia agresif, eutanasia non agresif, dan eutanasia pasif.

1.    Eutanasia agresif

Disebut juga eutanasia aktif, adalah suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup seorang pasien. Eutanasia agresif dapat dilakukan dengan pemberian suatu  senyawa yang mematikan, baik secara oral maupun melalui suntikan. Salah satu contoh senyawa mematikan tersebut adalah tablet sianida.

2.    Eutanasia non agresif

Kadang juga disebut eutanasia otomatis (autoeuthanasia) digolongkan sebagai eutanasia negatif, yaitu kondisi dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis meskipun mengetahui bahwa penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Penolakan tersebut diajukan secara resmi dengan membuat sebuah “codicil” (pernyataan tertulis tangan). Eutanasia non agresif pada dasarnya adalah suatu praktik eutanasia pasif atas permintaan pasien yang bersangkutan.

3.    Eutanasia pasif

Dapat juga dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan seorang pasien. Eutanasia pasif dilakukan dengan memberhentikan pemberian bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien secara sengaja. Beberapa contohnya adalah dengan tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan, tidak memberikan antibiotik kepada penderita pneumonia berat, meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup pasien, ataupun pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin yang disadari justru akan mengakibatkan kematian. Tindakan eutanasia pasif seringkali dilakukan secara terselubung oleh kebanyakan rumah sakit. Penyalahgunaan eutanasia pasif bisa dilakukan oleh tenaga medis maupun pihak keluarga yang menghendaki kematian seseorang, misalnya akibat keputusasaan keluarga karena ketidaksanggupan menanggung beban biaya pengobatan. Pada beberapa kasus keluarga pasien yang tidak mungkin membayar biaya pengobatan, akan ada permintaan dari pihak rumah sakit untuk membuat “pernyataan pulang paksa”. Meskipun akhirnya meninggal, pasien diharapkan meninggal secara alamiah sebagai upaya defensif medis.

Ditinjau dari sudut pemberian izin maka eutanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

1.    Eutanasia di luar kemauan pasien

Yaitu suatu tindakan eutanasia yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan eutanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.

2.    Eutanasia secara tidak sukarela

Eutanasia semacam ini adalah yang seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siapapun juga. Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien.

3.    Eutanasia secara sukarela

Dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial.

Ditinjau dari sudut tujuan pokok dari dilakukannya eutanasia antara lain yaitu:

1.    Pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing).

2.    Eutanasia hewan.

3.    Eutanasia berdasarkan bantuan dokter, ini adalah bentuk lain daripada eutanasia agresif secara sukarela.

D.   Aspek Hukum Euthanasia

Dalam mengkaji mengenai aspek tentang Euthanasia yang sampai sekarang masih bagitu banyak pertentangan pro dan kontra terhadap euthanasia, maka dari itu kita patut melihat euthanasia dari beberapa aspek seperti :

1.    Aspek hukum

Undang-undang yang tertulis dalam KUHP (pasal 340, 344) pidana hanya melihat dari Dokter sebagi pelaku utama dalam euthanasia, khususnya etuhanasia aktif dan dianggap sebagai suatu pembunuhan berencana (pasal 340).

2.    Aspek Hak Asasi Manusia

HAM selalu diakaitkan dengan hak hidup, damai dan sebagainya. Tapi tidak trcantum dengan jelas hak seseorang untuk mati. Mati sepertinya selalu dihubungkan dengan pelanggaran. Hal ini terbukti dari hukum euthanasia yang cenderung menyalahkan Dokter. Seharusnya jika dianut hak untuk hidup, secara tidak langsung terbesit hak untuk mati.

3.    Aspek Ilmu pengetahuan

Pengetahuan kedoteran dapat memperkirakan kemungkinan keberhasilan upaya tindakan medis untuk mencapai kesembuhan atau pengurangan penderitaan pasien.

4.    Aspek agama

Kelahiran dan kematian merupakan hak dari Tuhan sehingga tidak seorangpun di dunia ini yang mempunyai hak untuk memperpanjang atau memperpendek umurnya. Penyataan ini menurut ahli agama sekaligus mempertegas melarang tindakan euthanasia. Dokter bisa dikatakan dosa besar melawan kehendak Tuhan yaitu memperpendek umur.

 

E.   Pandangan Masyarakt Terhadap Euthanasia

Euthanasia adalah suatu tindakan yang di nilai oleh banyak kalangan sebagai suatu tindakan yang tidak manusiawi. Namun dinilai pula sebagai suatu tindakan yang meringankan penderitaan pasien yang dalam keadaan sekarat dengan berbagai alasan. Untuk menilai suatu tindakan euthanasia dalam perspektif HAM kita perlu mengkualifikasi euthanasia terlebih dahulu dalam berbagai bentuk tindakan euthanasia berdasarkan jenis euthanasia dalam tiga garis besar dari berbagai literatur yaitu :

1.    Euthanasia Aktif

Dibedakan dalam tiga jenis lagi yaitu:

a. Euthanasia aktif volentir

Pada jenis ini seorang dokter aktif menyuntikkan zat yang mematikan (lethal injection), seperti morfin atas persetujuan/permintaan pasien yang sadar dan sehat. Tindakan Dokter pada jenis euthanasia ini sama saja dengan membunuh walaupun dengan permintaan sadar dari orang yang ingin mengakhiri hidupnya karena penderitaan yang tak tertahankan. Hal ini bertentangan dengan sumpah hipocrates dan Kodeki Pasal 10 yang berbunyi “setiap Dokter harus senantiasa mengingat kewajibannya melindungi hidup makhluk insani”. Seorang dokter harus mempunyai hati nurani dan moral yang baik sehingga mempunyai penghargaan akan hak hidup orang lain. Dari segi hukum tindakan ini bertentangan dengan pasal 344 KUHP.

b.  Euthanasia Aktif Non Voluntir

Pada jenis ini dokter melakukan tindakan aktif terhadap pasien yang dalam keaadaan terminally ill, dalam ketidakmampuan berkomunikasi menyampaikan pendapat untuk tindakan euthanasia yang kan dilakukan pada dirinya. Oleh kehendak keluarga terdekatnya meminta kepada dokter untuk melakukan tindakan euthanasia terhadap pasien tersebut. Dalam keadaan seperti di atas baik kalangan rohaniawan, medis maupun kalangan hukum takkan satupun yang menyetujui tindakan tersebut karena sangat bertentangan dari segi agama dan hukum ini berkaitan dengan tindakan pembunuhan dengan sengaja 339 dan bila direncanakan akan dikenakan pasal 340 untuk keluarga dan Dokter yang melakukan tindakan tersebut.

c. Euthanasia Aktif Involuntir

Dalam euthanasia aktif involuntir, dokter secara aktif memasukkan zat mematikan ke dalam tubuh pasien, sedangkan si pasien masih dalam keadaan sadar dan ingin mempertahankan hidupnya, sama sekali pasien tidak menghendaki itu dilakukan terhadap dirinya. Pada tindakan ini biasanya terjadi pada pasien yang menderita kanker stadium lanjut, bisa saja pasien rela menderita hidup dengan keluarganya. Dari tindakan ini dokter jelas tidak mengamalkan kode etik sama halnya dengan jenis euthanasia sebelumnya. Dari segi hukum tindakan dokter ini berkaitan dengan pasal 338 atas dasar menghilangkan nyawa orang lain. Dari kasus ini jelas tidak mengamalkan pasal 1 Universal Declaration Of Human right yang menyatakan bahwa “setiap manusia dilahirkan bebas dan sama dalam martabatnya dan hak-haknya. Mereka dianugerahi dengan akal yang sehat dan hati nurani” . Konsep yang kritis disini adalah masalah akal, dalam memberlakukan akal manusia sanggup membuat keputusan yang rasional tentang nasibnya tidak dapat dianggap bahwa orang yang cacat kurang akal, tatapi yang menjadi masalah adalah bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan akal mereka secara nyata dalam membuat pilihan hidup yng rasional.

2.    Pandangan terhadap Euthanasia Pasif

Euthanasia Pasif juga dibagi dalam 3 jenis yaitu:

a. Euthanasia Pasif Voluntir

Berbeda dengan euthanasia aktif, pada jenis ini dokter tidak secara aktif memasukkan zat mematikan kedalam tubuh pasien. Pada euthanasia pasif dilakukan penghentian atau pencabutan segala tindakan atau pengobatan yang diperlukan untuk mempertahankan hidup manusia. Pada tindakan ini dilakukan atas persetujuan penderita. Dari pandangan iman bisa terjadi jika seseorang sudah merasa siap secara iman untuk meninggal secara bermartabat dengan meninggal secara damai ditengah keluarga, disamping itu juga euthanasia ini dilakukan jika pasien sudah dikatakan mati secara medis.

b. Euthanasia Pasif Non Volentir

Adalah tindakan dimana dilakukan  penghentian atau pencabutan segala tindakan atau pengobatan untuk tidak mempertahankan hidup manusia, dimana tindakan ini dilakukan tidak atas bersetujuan penderita. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasien yang tidak sadar sehingga tidak dapat menentukan keputusan terhadap tindakan yang akan diambil hal ini diakibatkan karena pasien dalam tidak sadar atau koma. Dalam keadaan terminally ill dan koma, yang lambat laun akan meninggal juga, tidak mampu menyatakan pendapatnya terhadap tindakan yang akan diambil. Tindakan ini diajukan dengan alasan masalah ekonomi. Namun masalah ini menjadi pro dan kontra, karena dokter tetap mempertahankan hidup penderita jika dinyatakan belum mati secara medis, masalah ekonomi akan menjadi tanggungjawab pemerintah.

c. Euthanasia Pasif Involuntir

Penghentian pencabutan segala tindakan atau segala pengobatan yang perlu untuk mepertahankan hidup paenderita. Dimana penderita masih ingin hidup. Tindakan ini secara medis tidak dibenarkan. Pasien masih ingin hidup, tapi hidupnya diabaikan tanpa seijinnya. Tentu ini bukan sikap seorang dokter yang harusnya menghormati hidup setiap insani, pasian mempunyai hak hidup yang harus dijunjung tinggi dan dihormati. Jika tindakan itu dilakukan sama saja dengan mengambil hidup pasien yang sama dengan pembunuhan. Walaupun diketahui hidupnya tidak akan lama lagi.

3. Pandangan terhadap Physician Assisted Suicide (PAS).

Physycian assisted suicide adalah jenis euthanasia yang banyak diperdebatkan dengan “right to die”. Di dunia ini, ada beberapa negara yang melegalkan tindakan ini tetapi ADIWIDIA edisi Desember 2010 No. 1 dengan syarat yang sangat ketat, negara tersebut seperti Belanda, Belgia dan Oregon. Tindakan PAS berupa pemberian zat yang mematikan seperti morfin atau insulin yang dapat mematika pasien secara langsung. Pasien dijelaskan terlebih dahulu akan keadaan dirinya dengan pernyakitnya yang sekarat dan tak akan tersembuhkan lagi, dengan rasa nyeri yang tak tertahankan kemudian menjelaskan bahwa tidak ada alternatif lain bagi pasien untuk dapat sembuh atau terhindar dari rasa nyeri itu. Dokter akan memberikan petunjuk untuk tindakan PAS, apabila pasien telah memutuskan untuk melakukan tanpa paksaan atau pengaruh dari orang lain, maka dokter memberikan petunjuk untuk tinggal memencet tombol pada laptop disamping tempat tidurnya yang dapat mengalirkan zat mematikan kedalam tubuh pasien. Untuk negara-negara yang melegalkan tindakan PAS ini tidak bertentangan dengan UU karena pasien telah mengggunakan haknya untuk menentukan pilihannya. Dari segi medis dokter yang melakukan tindakan ini berarti tidak menghormati kode etik kedokteran. Tuhan menciptakan ciptaannya itu pada suatu waktu akan manemui ajalnya. Tidak seorang dokter sehebat manapun akan mencegahnya. Tapi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang memberikan pengetahuan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menghindari diri dari maut. Jadi intinya dokter tidak boleh melakukan tindakan PAS karena bertentangan dengan sumpah Hipocrates dan kodeki, karena dokter tidak berusaha menolong memelihara kehidupan manusia tapi sebaliknya, seperti yang tercantum dalam pasal 10 kodeki. Dalam KUHP tindakan memberikan pertolongan/bantuan kepada permintaan pasien untuk bunuh diri (pasal 344). Agama maupun melarang orang untuk membunuh, karena kehidupan seseorang itu dianggap sebagai pemberian dan milik Tuhan, dan hanya Dia yang berhak mengambilnya.

Di tengah kontroversi pro dan kontra euthanasia pihak masing-masing bertahan dengan alasan yang diyakini Alasan pro euthanasia adalah sebagai berikut :

1.    Rasa kasihan (mercy killing)

2.    Faktor ekonomi

3.    Faktor sosial

4.    Pasien siap mati wajar

5.    Mati batang otak

6.    Pasien menolak semua tindakan medis

7.    Tindakan medis tidak menolong lagi

8.    Setujuh asal dilakukan dinegara yang melegalkan Euthanasia.

Dari beberapa alasan di atas jika kita tinjau dari beberapa sudut pandang seperti sudut pandang agama hanya memungkinkan jika pasien sudah siap mati dengan tenang di tengah keluarganya. Jika dari segi medis jika pasien menolak semua tindakan medis dan pasien sudah mati batang otak dari segi KODEKI tidak melanggar sesuai dengan SK.PB. IDI no. 231/PB/A.4/07/90. Pasien dinyatakan mati bila sudah terdapat kerusakan permanen pada batang otak.

Dokter diperkenankan menghentikan perawatan, tetapi tidak berarti dokter bebas dari kewajiban untuk menolong pasien dan memberi perawatan untuk mengurangi rasa sakit pada saat akhir dari penyakitnya. Sedangkan dari segi hukum hanya memungkinkan bila dilakukan di negara yang melegalkan euthanasia seperti di Belanda, Belgia dan Oregon. Sedangkan faktor lain timbul dari keluarga seperti faktor ekonomi dan rasa iba.

Hal ini pernah terjadi di Indonesia tepatnya tgl 22 Oktober 2004 telah diajuhkan tindakan euthanasia oleh Hasan Kusuma yang tidak tega melihat ADIWIDIA edisi Desember 2010 No. 1 penderitaan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun yang tergolek koma selama 2 bulan dan di samping tidak mampu membayar biaya rumah sakit untuk biaya perawatannya. Sehingga ia mengajuhkan Euthanasia kepengadilan Negeri pusat tetapi, pada akhirnya ditolak oleh PN Jakarta Pusat.

Euthanasia powerpoint


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.