Just another WordPress.com site

Latest

TINJAUAN TEORI DAN TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN KEP

A. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar Keluarga

a. Pengertian keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1998 dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 68).
Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan (WHO, 1969 dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 67).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Marilyn M. Friedmen, 1998 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 179).

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi, saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing, dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya,1989 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 179).

b. Struktur keluarga
Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam (Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso 2009, hal 68), diantaranya adalah :
1) Patrilineal.
Keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2) Matrilinel.
Keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3) Matrilokal.
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4) Patrilokal.
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5) Keluarga kawinan.
Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.

c. Tipe keluarga
Tipe keluarga menurut Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso (2009, hal 70), antara lain :
1) Tradisional nuklear.
Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang tingal dalam satu rumah ditetapkan olah saksi-saksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja diluar rumah.
2) Extended family.
Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
3) Reconstituted nuklear.
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
4) Middle age/aging couple.
Suami sebagai pencari uang, istri dirumah/kedua-duanya bekerja dirumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.
5) Dyadic nuklear.
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah.
6) Single parent.
Satu orang tua sebagai akibat dari perceraian/kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah/diluar rumah.
7) Dual carrier.
Suami istri atau keduanya berkarier dan tanpa anak.
8) Commuter married.
Suami istri/keduanya orang berkarier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
9) Single adult.
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk menikah.
10) Three generation.
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
11) Institutional.
Anak-anak atau orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
12) Comunal.
Satu rumah terdiri atas dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
13) Group marriage.
Satu perumahan terdiri atas orang tua dan keturunannya didalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah menikah dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
14) Unmaried parent and child.
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
15) Cohibing cauple.
Dua orang/satu pasangan yang tinggal bersama tanpa pernikahan.

d. Tingkat perkembangan keluarga
Tingkat perkembangan keluarga terbagi menjadi beberapa tahap atau kurun waktu tertentu, pada setiap tahapnya memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi (Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso 2009, hal 86), yaitu :
1) Tahap I pasangan baru atau keluarga baru (berginning family).
Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami dan istri yang membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
Tugasnya adalah :
a) Membina hubungan intim dan kepuasan bersama.
b) Menetapkan tujuan bersama.
c) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial.
d) Merencanakan anak (KB).
e) Menyesuaikan diri dengan kehamilan dan mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua.
2) Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing family).
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan (2,5 tahun).
Tugasnya adalah :
a) Persiapan menjadi orang tua.
b) Membagi peran dan tanggung jawab.
d) Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah yang menyenangkan.
e) Mempersiapkan biaya atau dana child bearing.
f) Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita.
g) Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
3) Tahap III keluarga dengan anak prasekolah (families with preschool).
Dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.
Tugasnya adalah :
a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti : kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa aman.
b) Membantu anak untuk bersosialisasi.
c) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.
d) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik didalam maupun diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak (tahap paling repot).
f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
4) Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah (families with school children).
Dimulai pada saat anak yang tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.
Tugasnya adalah :
a) Memberi perhatian tentang kegiatan sosial anak, pendidikan, dan semangat belajar.
b) Tetap mempertahankan hubungan yang harmonis dalam perkawinan.
c) Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
d) Menyediakan aktifitas untuk anak.
e) Menyesuaikan pada aktifitas komunitas dengan mengikutsertakan anak.
5) Tahap V keluarga dengan anak remaja (families with teenagers).
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai pada usia 19-20 tahun, pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.
Tugasnya adalah :
a) Memberi kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
b) Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan oang tua, hindari perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan.
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
6) Tahap VI keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching center families).
Dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah.
Tugasnya adalah :
a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b) Mempertahankan keintiman pasangan.
c) Membantu orang tua suami atau istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.
d) Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya.
e) Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
f) Berperan suami, istri, kakek, dan nenek.
g) Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya.
7) Tahap VII keluarga usia pertengahan (middle age families).
Dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.
Tugasnya adalah :
a) Merpertahankan kesehatan.
b) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam arti mengolah minat sosial dan waktu santai.
c) Memulihkan hubungan antara generasi muda dengan generasi tua.
d) Keakraban dengan pasangan.
e) Memelihara hubungan atau kontak dengan anak dan keluarga.
f) Persiapan masa tua atau pensiun dan meningkatkan keakraban pasangan.
8) Tahap VIII keluarga usia lanjut.
Tahap terakhir perkembangan keluarga dimulai pada saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal, sampai keduanya meninggal.
Tugasnya adalah :
a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
b) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik, dan pendapatan.
c) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
d) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
e) Melakukan file review.
f) Menerima kematian pasangan, kawan, dan mempersiapkan kematian.

e. Peran dan fungsi keluarga
Peran formal dalam keluarga (Nasrul Effendi, 1998 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 184), yaitu :
1) Peran sebagai ayah.
Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, anggota kelompok sosial, serta anggota masyarakat dan lingkungan.
2) Peran sebagai ibu.
Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya berperan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan salah satu anggota kelompok sosial, serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan disamping dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.
3) Peran sebagai anak
Anak melaksanakan peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Friedman (1998, dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 76) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, diantaranya adalah :
1) Fungsi afektif (The Affective Function).
Berkaitan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan dari keluarga, berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.
2) Fungsi sosialisasi (The Socialitazion Function).
Suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimana individu secara kontinu mengubah perilaku mereka sebagai respons terhadap situasi yang terpola secara sosial yang mereka alami. Anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya, serta perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga, sehingga individu mampu berperan dalam masyarakat.
3) Fungsi reproduksi (The Reproductive Function).
Berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4) Fungsi ekonomi (The Economic Function).
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
5) Fungsi perawatan keluarga/pemeliharaan kesehatan (The Health Care Function).
Untuk mempertahankan keadaan kesehatan keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.

f. Tugas keluarga
Tugas kesehatan keluarga menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1998, dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 185) adalah sebagai berikut :
1) Mengenal masalah kesehatan.
2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat.

g. Prinsip-prinsip keperawatan keluarga
Beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga (Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 182), antara lain :
1) Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan.
2) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, sehat merupakan tujuan utama.
3) Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga.
4) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan peran serta aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dan kebutuhan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.
5) Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
6) Dalam memberikan asuhan kesehatan keluarga, perawat memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga.
7) Sasaran asuhan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan.
8) Pendekatan yang dipergunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan mengunakan proses keperawatan.
9) Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan keperawatan kesehatan dasar atau perawatan dirumah.
10) Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk kelompok resiko tinggi.

2. Konsep Dasar KEP
a. Pengertian
Kurang Energi Protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam jangka waktu yang lama. Ciri fisik KEP adalah bila berat badan berada dibawah standar normal. (Depkes RI, 2009, hal 59).
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi (BB/TB) + 2 SD baku WHO-NCHS.
b) Gizi baik : BB/U > + 2 SD s/d + 2 SD baku WHO-NCHS.
c) Gizi kurang : BB/U < + 2 SD s/d – 3 SD baku WHO-NCHS
d) Gizi buruk : BB/U < – 3 SD baku WHO-NCHS

2) Klasifikasi KEP BB/U menurut baku standar Menteri Kesehatan RI (2010)
a) KEP ringan bila berat badannya -3SD – <-2SD baku rujukan BB/U dalam pedoman standar atropometri kesehatan gizi anak. Pada KMS berat badan anak berada pada pita warna kuning atau antara pita warna hijau dan garis merah.
b) KEP sedang-berat bila berat badannya <-3SD baku rujukan BB/U dalam pedoman standar atropometri kesehatan gizi anak. Pada KMS tampak berat badan anak berada di bawah garis merah.
3) Secara klinis KEP berat terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik-kwashiorkor (Merryana Adriani dan Bambang Wirjatmadi, 2012, hal 19).
a) KEP berat tipe marasmus yang ditemukan dengan :
(1) Otot lemah, lunak.
(2) Merasa lapar dan cengeng.
(3) Defisiensi mikronutrien yang berhubungan dengan pola diet setempat .
(4) Tidak ada jaringan lemak bawah kulit.
(5) Wajah tampak tua (monkey face).
(6) Gagalnya pertumbuhan.
(7) Tidak adanya edema.
(8) Sering terjadi pada bayi 2,0 SD baku WHO NCHS) Normal (>2,0 SD baku WHO NCHS) Gemuk (>2,0 SD baku WHO NCHS)
Gizi baik (-2,0 SD s/d +2,0 SD
Gizi kurang (<-2,0 SD)
Gizi buruk (<-3,0 SD)

Pendek/stntewd <-2,0 SD Normal (-2,0 SD s/d +2,0 SD)
Kurus/wasted (<-2,0 SD s/d 3,0 SD)
Sangat kurus (<-3 SD)

3) Cara klinis
Riwayat medis dan pengujian fisik merupakan metode klinis yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda yang berhubungan dengan KEP seperti : marasmus, kwashiokor, dan marasmus-kwashiokor.

f. Penatalaksanaan
Pengobatan KEP :
1) Pada penderita KEP ringan, dapat dilakukan dengan mengubah menu makanan dan suplementasi.
2) Pada penderita KEP berat, dilakukan tindakan hospitalisasi.
Kegiatan dalam penatalaksanaan gizi buruk yaitu dengan :
1) Pengkajian satus gizi, yang dilakukan secara :
a) Klinis
b) Antropometri
c) Laboratorium
d) Riwayat atau anamnesa gizi
e) Evaluasi asupan makanan selama perawatan
2) Pemberian diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), dimana pemberian makanan disesuaikan dengan kondisi penderita, dapat diberikan dalam bentuk makanan biasa maupun enteral.
Adapun makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita KEP adalah bahan makanan yang mengadung Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), meliputi :
1) Bahan makanan yang dianjurkan, yaitu :
a) Sumber karbohidrat : nasi, roti, mie, makaroni, hasil olah tepung-tepungan, dodol, ubi, dan karbohidrat sederhana (gula pasir).
b) Sumber protein : daging sapi, ayam, ikan, telur, susu, dan hasil olah (es krim dan keju).
c) Sumber protein nabati : kacang-kacangan dan hasil olahannya (tempe dan tahu).
d) Sayuran : semua jenis sayuran, direbus, dikukus, atau ditumis.
e) Buah-buahan : semua jenis buah segar, buah kaleng, buah kering, dan jus buah.
f) Lemak dan minyak : minyak goreng, mentega, margarin, dan santan encer.
g) Minuman : madu, sirup, teh dan kopi encer.
h) Bumbu : bumbu tidak tajam (bawang merah/putih, laos, salam, dan kecap).
2) Bahan makanan yang tidak dianjurkan yaitu :
a) Sumber protein, sumber protein nabati dan sayuran : dimasak dengan banyak minyak atau kelapa/santan kental.
b) Lemak dan minyak : santan kental.
c) Minuman : minuman rendah energi.
d). Bumbu : bumbu yang tajam (Atikah Proverawati dan Erna Kusuma Wati, 2011, hal. 41-42).

g. Pencegahan KEP
Langkah-langkah pencegahan KEP menurut Merryana Adriani dan Bambang Wirjatmadi (2012, hal 23-24) seperti :
a) Pemberian ASI secara baik dan tepat disertai dengan pengawasan BB secara teratur dan terus menerus.
b) Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak untuk mengganti ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI, terutama pada usia dibawah 4 bulan.
c) Dimulainya pemberian makanan tambahan mengandung berbagai zat gizi, secara lengkap sesuai kebutuhan, guna menambah ASI mulai bayi usia mencapai lima bulan.
d) Pemberian kekebalan melalui imunisasi guna melindungi anak dari kemungkinan menderita penyakit infeksi.
e) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan kekurangan cairan dengan jalan memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk minum, dan mencuci alat pembuat susu.
f) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan bayinya terutama pemberian ASI.
g) Meningkatkan pendapatan keluarga serta diimbangi dengan penggunaan uang yang terarah dan efesien.
h) Meningkatkan intensitas komunikasi informasi edukasi (KIE) kepada masyarakat, terutama para ibu mengenai pentingnya konsumsi zat gizi yang diatur sesuai kebutuhan.

3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga
a. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana seorang perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang dibinanya. Tahap ini merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan keluarga (Lyer et al.,1996, dalam Setiadi, 2008).
Cara pengumpulan data tentang keluarga dapat dilakukan antara lain dengan :
1) Wawancara
2) Pengamatan
3) Studi dokumentasi
4) Pemeriksaan fisik.
Pada kegiatan pengkajian ada beberapa tahap yang perlu dilakukan yaitu:
1) Membina hubungan yang baik.
Hubungan yang baik antar perawat dan klien (keluarga) merupakan modal utama pelaksanaan asuhan keperawatan..
2) Pengkajian awal.
Pengkajian ini terfokus sesuai data yang di peroleh dari unit pelayanan kesehatan.
3) Pengkajian lanjutan (tahap kedua).
Pengkajian lanjutan adalah tahap pengkajian untuk memperoleh data yang lebih lengkap sesuai masalah kesehatan keluarga yang berorientasi pada pengkajian awal (Suprajitno, 2004, hal. 29).
Hal-hal yang perlu dikaji pada tahap pengkajian adalah sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang perlu dikaji adalah :
a) Data umum
(1) Identitas kepala keluarga
(2) Komposisi keluarga
(3) Genogram
(4) Tipe keluarga
(5) Latar belakang budaya (etnis)
(6) Agama
(7) Status sosial ekonomi keluarga
(8) Aktivitas rekreasi keluarga
b) Tahap dan riwayat perkembangan keluarga
(1) Tahap perkembangan saat ini
(2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
(3) Riwayat keluarga sebelumnya
c) Data lingkungan
(1) Karakteristik rumah
(2) Karakteristik lingkungan dan komunitas
(3) Mobilitas geografis keluarga
(4) Perkumpulan keluarga dan interaksi sosial keluarga
(5) Sistem pendukung atau jaringan sosial keluarga
d) Struktur keluarga
(1) Pola komunikasi
(2) Struktur kekuasaan
(3) Struktur peran
(4) Nilai dan norma keluarga
e) Fungsi keluarga
(1) Fungsi afektif
(2) Fungsi sosialisasi
(3) Fungsi perawatan keluarga
f) Pemeriksaan fisik
g) Koping keluarga
(1) Stesor jangka pendek dan jangka panjang
(2) Kemampuan keluarga untuk berespon terhadap situasi atau stesor
(3) Penggunaan strategi keluarga
(4) Strategi adaptasi disfungsional
2) Analisa Data
Cara analisa data adalah :
a) Validasi data, yaitu meneliti kembali data yang terkumpul dalam format pengkajian
b) Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan biopsiko-sosial dan spiritual
c) Membandingkan dengan standar
d) Membut kesimpulan dari kesenjangan yang di timbulkan
3) Perumusan masalah
Komponen diagnosis keperawatan keluarga (Setiadi, 2008, hal. 49-50) meliputi :
a) Masalah (problem)
Daftar diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan Nanda (1995, dalam Setiadi, 2008, hal. 50-51) adalah sebagai berikut :
(1) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan.
(a) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (higiene lingkungan).
(b) Resiko terhadap cedera.
(c) Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit).
(2) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur komunikas.
(a) Komunikasi keluarga disfungsional.
(3) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah struktur peran.
(a) Berduka dan antisipasi.
(b) Berduka disfungsional.
(c) Isolasi sosial.
(d) Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit terhadap keluarga).
(e) Potensial peningkatan menjadi orang tua.
(f) Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua).
(g) Perubahan penampilan peran.
(h) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah.
(i) Gangguan citra tubuh.
(4) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif.
(a) Perubahan proses keluarga.
(b) Perubahan menjadi orang tua.
(c) Berduka yang diantisipasi.
(d) Koping keluarga yang tidak efektif, menurun.
(e) Koping keluarga yang tidak efektif, ketidakmampuan.
(f) Resiko terhadap tindak kekerasan.
(5) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi sosial.
(a) Perubahan proses keluarga.
(b) Perilaku mencari bantuan kesehatan.
(c) Konflik peran orang tua.
(d) Perubahan menjadi orang tua.
(e) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan.
(f) Perubahan pemeliharaan kesehatan.
(g) Kurang pengetahuan.
(h) Isolasi sosial.
(i) Kerusakan interaksi sosial.
(j) Resiko terhadap tindakan kekerasan
(k) Ketidakpatuhan.
(l) Gangguan identitas diri
(6) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi perawatan kesehatan.
(a) Perubahan pemeliharaan kesehatan.
(b) Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan.
(c) Perilaku mencari pertolongan kesehatan.
(d) Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik atau pengobatan keluarga.
(e) Resiko terhadap penularan penyakit.
(7) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah koping.
(a) Potensial peningkatan koping keluarga.
(b) Koping keluarga tidak efektif, menurun.
(c) Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan.
(d) Resiko terhadap tindak kekerasan.
b) Penyebab (Etiologi)
c) Tanda (sign)
Perumusan diagnosa keperawatan keluarga dapat dibedakan menjadi 5 (lima) katagori, yaitu :
a) Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
b) Resiko (ancaman kesehatan)
c) Wellness (keadaan sejahtera)
d) Sindrom
4) Prioritas diagnosa keperawatan
Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga dihitung dengan menggunakan skala Baylon dan Maglaya (1978, dalam Setiadi, 2008, hal. 56-57).
a) Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat.
b) Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan dengan bobot.
c) Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria, skor tetinggi adalah 5, sama dengan seluruh bobot.

TABEL 2
SKORING MASALAH KEPERAWATAN
No Kriteria Nilai Bobot
1 Sifat masalah
a. Tidak/kurang sehat
b. Ancaman kesehatan
c. Keadaan sejahtera 3
2
1 1
2 Kemungkinan masalah dapat diubah
a. Mudah
b. Sebagian
c. Tidak dapat 2
1
0 2
3 Potensial masalah untuk dicegah
a. Tinggi
b. Cukup
c. Rendah 3
2
1 1
Menonjolnya masalah
a. Masalah berat, harus segera ditangani
b. Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani
c. Masalah tidak dirasakan 2
1

0 1
TOTAL 5

b. Perencanaan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka panjang/pendek), penetapan standar dan kriteria serta menentukan perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga (Setiadi, 2008, hal. 61-62).
1) Penetapan tujuan
Bila dilihat dari sudut jangka waktu, maka tujuan perawatan keluarga dapat dibagi menjadi :
a) Tujuan jangka panjang
Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri.
b) Tujuan jangka pendek
Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan.
2) Penetapan kriteria standar
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a) Berfokus pada keluarga.
b) Singkat dan jelas.
d) Dapat diobservasi dan diukur.
e) Realistis.
f) Ditentukan oleh perawat dan keluarga.
3) Pembuatan rencana keperawatan
Fokus dari intervensi keperawatan keluarga antara lain meliputi kegiatan yang bertujuan :
a) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan.
b) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan keluarga yang tepat.
c) Memberi kepercayaan diri dalam merawat anggota yang sakit.
d) Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat.
e) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

c. Pelaksanaan
Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan atau perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun pad tahap perncanaan. Pada tahap ini perawat mengasuh keluarga sebaiknya tidak bekerja sendiri, tapi perlu melibatkan secara integrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan kesehatan di rumah (Setiadi, 2008, hal. 66).
Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan keluarga, yaitu :
1) Tahap 1 : Persiapan
2) Tahap 2 : Intervensi
a) Independent
(1) Tindakan diagostik
(2) Tindakan terapeutik
(3) Tindakan edukatif
(4) Tindakan merujuk
(b) Interdependent
(c) Dependent
3) Tahap 3 : Dokumentasi

d. Evaluasi
Perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan (Setiadi, 2008, hal. 69-71).
1) Tahap evaluasi
Evaluasi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
a) Evaluasi sumatif
Evaluasi jenis ini di kerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang di alami oleh keluarga. Format yang di pakai adalah SOAP.
b) Evaluasi formatif
Evaluasi jenis ini di kerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan di capai. Bila terdapat kesenjangan di antara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu di tinjau kembali, Agar dapat di data, masalah atau rencana yang di modifikasi.
2) Metode evaluasi
Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain adalah :
a) Observasi langsung
b) Wawancara
c) Memeriksa laporan
d) Latihan simulasi.

TREND DAN ISU PERAWATAN LUKA BARU

A.   PENDAHULUAN

Pada saat ini, perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk menunjang praktek perawatan luka ini. Disamping itu pula, isu terkini yang berkait dengan manajemen perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolic semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kekompleksan suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal.

Dengan demikian, perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Isu yang lain yang harus dipahami oleh perawat adalah berkaitan dengan cost effectiveness. Manajemen perawatan luka modern sangat mengedepankan isu tersebut. Hal ini ditunjang dengan semakin banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan produk-produk yang bisa dipakai dalam merawat luka. Dalam hal ini, perawat dituntut untuk memahami produk-produk tersebut dengan baik sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Pada dasarnya, pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety). Secara umum, perawatan luka yang berkembang pada saat ini lebih ditekankan pada intervensi yang melihat sisi klien dari berbagai dimensi, yaitu dimensi fisik, psikis, ekonomi, dan sosial.

B.   DEFENISI LUKA, KLASIFIKASI DAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA

Secara definisi suatu luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan. Luka ini bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur anatomis, sifat, proses penyembuhan dan lama penyembuhan. Adapun berdasarkan sifat yaitu : abrasi, kontusio, insisi, laserasi, terbuka, penetrasi, puncture, sepsis, dll. Sedangkan klasifikasi berdasarkan struktur lapisan kulit meliputi: superfisial, yang melibatkan lapisan epidermis; partial thickness, yang melibatkan lapisan epidermis dan dermis; dan full thickness yang melibatkan epidermis, dermis, lapisan lemak, fascia dan bahkan sampai ke tulang.

Berdasarkan proses penyembuhan, dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

1.    Healing by primary intention

Penutupan luka dengan menyatukan kedua pinggir luka (hecting, clips atau tape). Tepi luka bisa menyatu kembali, permukan bersih, biasanya terjadi karena suatu insisi, kehilangan jaringan minimal. Penyembuhan luka berlangsung lebih cepat, dari bagian internal ke ekseternal.

2.    Healing by secondary intention

Terdapat sebagian jaringan yang hilang, proses penyembuhan akan berlangsung mulai dari pembentukan jaringan granulasi, kontraksi dan epithelisasi pada dasar luka dan sekitarnya. Proses penyembuhan ditunda, berlangsung lebih lama.

3.    Delayed primary healing (tertiary healing)

Penyembuhan luka berlangsung lambat, biasanya sering disertai dengan infeksi, diperlukan penutupan luka secara manual.

Berdasarkan klasifikasi berdasarkan lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua yaitu:

1.    Akut

Luka baru, mendadak dan penyembuhan sesuai dengan waktu yang diperkirakan, terjadi dalam jangka waktu 2-3 minggu (sesuai proses penyembuhan luka)

2.    Kronis

Luka gagal sembuh pada waktu yang ditentukan, tidak berespon baik pada therapy dan mempunyai tendensi untuk muncul kembali (mengalami kegagalan pada proses penyembuhan). Jenis luka yang tidak ada tanda-tanda untuk sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu.

Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung sesuai dengan kaidah penyembuhan normal tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika mengalami keterlambatan penyembuhan (delayed healing) atau jika menunjukkan tanda-tanda infeksi.

C.   PROSES PENYEMBUHAN LUKA

1.    Luka akan sembuh sesuai dengan tahapan yang spesifik dimana bisa terjadi tumpang tindih (overlap).

2.    Proses penyembuhan luka tergantung pada jenis jaringan yang rusak serta penyebab luka tersebut

3.    Fase penyembuhan luka :

a.  Fase inflamasi :

–    Hari ke 0-5

–    Respon segera setelah terjadi injuri, pembekuan darah, untuk mencegah kehilangan darah

–    Karakteristik : tumor, rubor, dolor, color, functio laesa

–    Fase awal terjadi haemostasis

–    Fase akhir terjadi fagositosis

–    Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi infeksi

b.  Fase proliferasi or epitelisasi

–    Hari 3-14

–    Disebut juga dengan fase granulasi karena adanya pembentukan jaringan granulasi pada luka, luka nampak merah segar, mengkilat

–    Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : Fibroblasts, sel inflamasi, pembuluh darah yang baru, fibronectin dan hyularonic acid

–    Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan penebalan lapisan epidermis pada tepian luka

–    Epitelisasi terjadi pada 48 jam pertama pada luka insisi

c.  Fase maturasi atau remodelling

–    Berlangsung dari beberapa minggu sampai dengan 2 tahun

–    Terbentuknya kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka serta peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength)

–    Terbentuk jaringan parut (scar tissue), 50-80% sama kuatnya dengan jaringan sebelumnya

–    Terdapat pengurangan secara bertahap pada aktivitas selular and vaskularisasi jaringan yang mengalami perbaikan

D.   FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN LUKA

1.    Status Imunologi

2.    Kadar gula darah (impaired white cell function)

3.    Hidrasi (slows metabolism)

4.    Nutritisi

5.    Kadar albumin darah (building blocks’ for repair, colloid osmotic pressure – oedema)

6.    Suplai oksigen dan vaskularisasi

7.    Nyeri (causes vasoconstriction)

8.    Corticosteroids (depress immune function)

9.    Kualitas teknik pembedahan

10   Kualitas manajemen luka

11.  Gaya hidup

12.  Umur

13.  Status nutrisi

14.  Gangguan sirkulasi darah

15.  Infeksi

16.  Dehidrasi

17.  Penyakit

18.  Stres, kecemasan, dan depresi

19.  Pengobatan

E.    KONSEP PENYEMBUHAN LUKA

1.    Perawatan luka tertutup

2.    Menciptakan dan mempertahankan suasana lembab pada luka (moisture balance)

3.    Menyiapkan dasar luka untuk proses penyembuhan dan penggunaan advance dressing.

4.    Tidak menggunakan kassa sebagai balutan utama

5.    Mempertimbangkan cost efective bagi pasien

6.    Antibiotik topikal tidak dianjurkan

7.    Didasarkan pada evedence base

F.    PRINSIP PERAWATAN LUKA

1.    Mengontrol hemostasis

2.    Mengontrol infeksi

3.    Membuang jaringan mati/material infeksi

4.    Membuang benda asing

5.    Menyiapkan dasar luka

6.    Melindungi kulit sekitar luka

7.    Support proses penyembuhan

G.   PROSES PERAWATAN LUKA

1.    Mengkaji luka

a.  Kondisi luka

–    Warna dasar luka

Slough (yellow)

Necrotic tissue (black)

Infected tissue (green)

Granulating tissue (red)

Epithelialising (pink)

–    Lokasi ukuran dan kedalaman luka (panjang x lebar x dalam)

–    Eksudat dan bau

–    Tanda-tanda infeksi

–    Keadaan kulit sekitar luka : warna dan kelembaban

–    Hasil pemeriksaan laboratorium yang mendukung

b.  Status nutrisi klien : BMI, kadar albumin

c.  Status vascular : Hb, TcO2

d.  Status imunitas: terapi kortikosteroid atau obat-obatan immunosupresan yang lain

e.  Penyakit yang mendasari : diabetes atau kelainan vaskularisasi lainnya

2.    Mencuci luka

a.  Teknik

–    Swabbing/Bathing

–    Irigasi

b.  Cairan normal salin dan air pilihan terbaik

c.  Suhu cairan sesuai suhu tubuh normal

d.  Antiseptik tidak dianjurkan

e.  Cairan pencuci alternatif (evedence base)

–    Rebusan air daun jambu biji

–    Rebusan air daun sirih

f.  Sabun dipakai pada luka kronis

g.  Cairan lain (RL, Dextrose) masih diperdebatkan

3.    Balutan Luka

Balutan luka (wound dressings) merupakan moisture balance topikal therapy akan menciptakan lingkungan luka optimal yaitu:

a.  Permukaan luka lembab

b.  Perfusi/oksigenasi baik

c.  Temperatur optimal

d.  PH optimal (asam)

Balutan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat selama hampir dua dekade ini. Revolusi dalam perawatan luka ini dimulai dengan adanya hasil penelitian yang dilakukan oleh Professor G.D Winter pada tahun 1962 yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tentang keadaan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka. Menurut Gitarja (2002), adapun alasan dari teori perawatan luka dengan suasana lembab ini antara lain:

a.  Mempercepat fibrinolisis

Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab.

b.  Mempercepat angiogenesis

Dalam keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang lebih pembentukan pembuluh darah dengan lebih cepat.

c.  Menurunkan resiko infeksi

Kejadian infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering.

d.  Mempercepat pembentukan Growth factor

Growth factor berperan pada proses penyembuhan luka untuk membentuk stratum corneum dan angiogenesis, dimana produksi komponen tersebut lebih cepat terbentuk dalam lingkungan yang lembab.

e.  Mempercepat terjadinya pembentukan sel aktif.

Pada keadaan lembab, invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini.

Pada dasarnya prinsip pemilihan balutan yang akan digunakan untuk membalut luka harus memenuhi kaidah-kaidah berikut ini:

a.  Kapasitas balutan untuk dapat menyerap cairan yang dikeluarkan oleh luka (absorbing)

b.  Kemampuan balutan untuk mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resiko terjadinya kontaminasi mikroorganisme (non viable tissue removal)

c.  Meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (wound rehydration)

d.  Melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan

e.  Kemampuan atau potensi sebagai sarana pengangkut atau pendistribusian antibiotic ke seluruh bagian luka (Hartmann, 1999; Ovington, 1999)

Dasar pemilihan terapi harus berdasarkan pada :

a.  Apakah suplai telah tersedia?

b.  Bagaimana cara memilih terapi yang tepat?

c.  Bagaimana dengan keterlibatan pasien untuk memilih?

d.  Bagaimana dengan pertimbangan biaya?

e.  Apakah sesuai dengan SOP yang berlaku?

f.  Bagaimana cara mengevaluasi?

Jenis-jenis balutan dan terapi alternative lainnya

a.  Film Dressing

–    Semi-permeable primary atau secondary dressings

–    Clear polyurethane yang disertai perekat adhesive

–    Conformable, anti robek atau tergores

–    Tidak menyerap eksudat

–    Indikasi : luka dgn epitelisasi, low exudate, luka insisi

–    Kontraindikasi : luka terinfeksi, eksudat banyak

–    Contoh: Tegaderm, Op-site, Mefilm

b.  Hydrocolloid

–    Pectin, gelatin, carboxymethylcellulose dan elastomers

–    Support autolysis untuk mengangkat jaringan nekrotik atau slough

–    Occlusive → hypoxic environment untuk mensupport angiogenesis

–    Waterproof

–    Indikasi : luka dengan epitelisasi, eksudat minimal

–    Kontraindikasi : luka yang terinfeksi atau luka grade III-IV

–    Contoh: Duoderm extra thin, Hydrocoll, Comfeel

c.  Alginate

–    Terbuat dari rumput laut

–    Membentuk gel diatas permukaan luka

–    Mudah diangkat dan dibersihkan

–    Bisa menyebabkan nyeri

–    Membantu untuk mengangkat jaringan mati

–    Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita

–    Indikasi : luka dengan eksudat sedang s.d berat

–    Kontraindikasi : luka dengan jaringan nekrotik dan kering

–    Contoh : Kaltostat, Sorbalgon, Sorbsan

d.  Foam Dressings

–    Polyurethane

–    Non-adherent wound contact layer

–    Highly absorptive

–    Semi-permeable

–    Jenis bervariasi

–    Adhesive dan non-adhesive

–    Indikasi : eksudat sedang s.d berat

–    Kontraindikasi : luka dengan eksudat minimal, jaringan nekrotik hitam

–    Contoh : Cutinova, Lyofoam, Tielle, Allevyn, Versiva

e.  Terapi alternatif

–    Zinc Oxide (ZnO cream)

–    Madu (Honey)

–    Sugar paste (gula)

–    Larvae therapy/Maggot Therapy

–    Vacuum Assisted Closure

–    Hyperbaric Oxygen

Teknik balutan luka (wound dressings)

a.  Luka dengan eksudat & jaringan nekrotik (sloughy wound)

–    Bertujuan untuk melunakkan dan mengangkat jaringan mati (slough tissue)

–    Sel-sel mati terakumulasi dalam eksudat

–    Untuk merangsang granulasi

–    Mengkaji kedalaman luka dan jumlah eksudat

–    Balutan yang dipakai antara lain: hydrogels, hydrocolloids, alginates dan hydrofibre dressings

b.  Luka Nekrotik

–    Bertujuan untuk melunakan dan mengangkat jaringan nekrotik (eschar)

–    Berikan lingkungan yg kondusif u/autolisis

–    Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat

–    Hydrogels, hydrocolloid dressings

c.  Luka terinfeksi

–    Bertujuan untuk mengurangi eksudat, bau dan mempercepat penyembuhan luka

–    Identifikasi tanda-tanda klinis dari infeksi pada luka

–    Wound culture – systemic antibiotics

–    Kontrol eksudat dan bau

–    Ganti balutan tiap hari

–    Hydrogel, hydrofibre, alginate, metronidazole gel (0,75%), carbon dressings, silver dressings

d.  Luka Granulasi

–    Bertujuan untuk meningkatkan proses granulasi, melindungi jaringan yang baru, jaga kelembaban luka

–    Kaji kedalaman luka dan jumlah eksudat

–    Moist wound surface – non-adherent dressing

–    Treatment overgranulasi

–    Hydrocolloids, foams, alginates

e.  Luka epitelisasi

–    Bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk “re-surfacing”

–    Transparent films, hydrocolloids

–    Balutan tidak terlalu sering diganti

f.  Balutan kombinasi

Tujuan

Tindakan

Rehidrasi Hydrogel + film

atau hanya hydrocolloid

Debridement (deslough) Hydrogel + film/foam

Atau hanya hydrocolloid

Atau alginate + film/foam

Atau hydrofibre + film/foam

Manage eksudat sedang s.d berat Extra absorbent foam

Atau extra absorbent alginate + foam

Atau hydrofibre + foam

Atau cavity filler plus foam

H.   KESIMPULAN

1.    Penggunaan ilmu dan teknologi serta inovasi produk perawatan luka dapat memberikan nilai optimal jika digunakan secara tepat

2.    Prinsip utama dalam manajemen perawatan luka adalah pengkajian luka yang komprehensif agar dapat menentukan keputusan klinis yang sesuai dengan kebutuhan pasien

3.    Peningkatan pengetahuan dan keterampilan klinis diperlukan untuk menunjang perawatan luka yang berkualitas

Referensi:

1. ⁠http://www.podiatrytoday.com/article/1894⁠

2. Georgina Casey, Modern Wound Dressings. Nursing Standard, Oct 18-Oct 24, 2000:15,5: Proquest Nursing & Allied Health Search

3. Kathleen Osborn, Nursing Burn Injuries. Nursing Management; May 2003; 34,5: Proquest Nursing & Allied Health Search

4. Madelaine Flanagan, Managing Chronic Wound Pain in Primary Care. Practice Nursing; Jun 23, 2006; 31, 12; ABI/INFORM Trade & Industry

5. Maureen Benbow, Healing and Wound Classification. Journal of Community Nursing; Sep 2007; 21,9; Proquest Nursing & Allied Health Search

6. Ritin Fernandez, Rhonda Griffiths, Cheryl Ussia (2002). The Effectiveness of Solutions, Techniques and Pressure in Wound Cleansing. The Joanna Briggs Institute for Evidence Based Nursing & Midwifery. Australia. ⁠www.joannabriggs.org.au⁠

7. Ruth Ropper. Principles of Wound Assessment and Management. Practice Nurse; Feb 24, 2006; 31,4; Proquest Nursing & Allied Health Search

TUJUAN DAN KEGUNAAN ASPEK DOKUMENTASI

A.  Pengertian Dokumentasi
Secara umum dokumentasi merupakan suatu catatan otentik atau dokumen asli yang dapat dijadikan bukti dalam persoalan hukum. Sedangkan dokumentasi keperawatan merupakan bukti pencatatan dan pelaporan berdasarkan komunikasi tertulis yang akurat dan lengkap yang dimiliki oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan dan berguna untuk kepentingan klien, tim kesehatan, serta kalangan perawat sendiri (A. Aziz Alimul).
Dokumentasi dalam Bahasa Inggris berarti satu atau lebih lembar kertas resmi dengan tulisan diatasnya. Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti bahan pustaka, baik berbentuk tulisan maupun berbentuk rekaman lainnya seperti pita suara/kaset, video, film, gambar dan foto (Suyono trimo 1987, hal 7).
Dokumen merupakan catatan yang dicetak atau yang ditulis atau digunakan untuk membuktikan sesuatu (Peter Sali, Drs, MA). Sesuatu yang tertulis atau yang tercetak yang dapat dipakai sebagai buku keterangan (Purwodarminto).
Dokumentasi adalah semua warkat asli atau catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti pada persoalan hukum. Tungpalan mengatakan bahwa “Dokumen adalah suatu catatan yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum“.
Dokumentasi dalam bidang kesehatan adalah suatu pencatatan dan pelaporan informasi tentang kondisi dan perkembangan kesehatan pasien dan semua kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan (bidan, dokter/perawat dan petugas kesehatan lainnya).
Dokumentasi merupakan:
1. Tulisan yg berisi komunikasi tentang kenyataan yg esensial untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yg bisa terjadi untuk suatu periode tertentu.
2. Menyiapkan dan memelihara kejadian-kejadian yg diperhitungkan melalui lembaran catatan dokumen.
3. Membuat catatan pasien yg otentik tentang kebutuhan pelayanan, mengidentifikasi masalah pasien, merencanakan, menyelenggarakan dan mengevaluasi.
4. Memantau catatan profesional & data dari pasien. Kegiatan pelayanan perkembangan pasien menjadi sehat atau sakit dan hasil kegiatan pasien. 5. Melaksanakan kegiatan keperawatan, misalnya:
a.  pencegahan penyakit
b.  peningkatan kesehatn
c.  perawatan penurunan penderitaan.    

B. Tujuan dan Fungsi Dokumentasi
Kegiatan pendokumentasian merupakan unsur pokok dalam pertanggungjawaban kinerja profesi keperawatan. Catatan pasien merupakan suatu dokumen legal berbentuk tulisan, menggambarkan asuhan keperawatan yang diberikan.
Dokumentasi asuhan keperawatan pada pasien dibuat untuk menunjang tertibnya administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di tempat pelayanan kesehatan, antara lain di rumah sakit, puskesmas, rumah bersalin atau praktek swasta.
Tujuan dari kegiatan pendokumentasian asuhan keperawatan, antara lain: 1.  Sebagai Sarana Komunikasi  
Dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkap dapat berguna untuk:
a.  Membantu koordinasi asuhan keperawatan yang diberikan oleh tim kesehatan.
b.  Mencegah informasi yang berulang terhadap pasien atau anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih, bahkan sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan meningkatkan ketelitian dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.
c.  Membantu tim bidan dalam menggunakan waktu sebaik-baiknya. Melalui dokumentasi ini, diharapkan tidak akan ada rencana asuhan yang sama sekali tidak dilakukan serta bidan mampu memperkecil kesalahan dalam melakukan asuhan keperawatan.
2.  Sebagai tanggung jawab dan tanggung gugat
Sebagai upaya untuk melindungi pasien terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang diterima dan perlindungan terhadap keamanan perawat dalam melaksanakan tugasnya, maka perawat diharuskan mencatat segala tindakan yang dilakukan terhadap pasien. Hal ini penting berkaitan dengan langkah antisipasi terhadap ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan dan kaitannya dengan aspek hukum yang dapat dijadikan settle concern, artinya dokumentasi dapat digunakan untuk menjawab ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diterima secara hukum.
3.  Sebagai informasi statistik
Data statistik dari dokumentasi kebidanan dapat membantu merencanakan kebutuhan di masa mendatang, baik SDM, sarana, prasarana dan teknis.
4.  Sebagai sarana pendidikan
Dokumentasi asuhan keperawatan yang dilaksanakan secara baik dan benar akan membantu para siswa keperawatan maupun siswa kesehatan lainnya dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan pengetahuan dan membandingkannya, baik teori maupun praktek lapangan.
5.  Sebagai sumber data penelitian
Informasi yang ditulis dalam dokumentasi dapat digunakan sebagai sumber data penelitian. Hal ini erat kaitannya dengan yang dilakukan terhadap asuhan kebidanan yang diberikan, sehingga melalui penelitian dapat diciptakan satu bentuk pelayanan keperawatan yang aman, efektif dan etis.
6.  Sebagai jaminan kualitas pelayanan kesehatan
Melalui dokumentasi yang dilakukan dengan baik dan benar, diharapkan asuhan keperawatan yang berkualitas dapat dicapai, karena jaminan kualitas merupakan bagian dari program pengembangan pelayanan kesehatan. Suatu perbaikan tidak dapat diwujudkan tanpa dokumentasi yang kontinu, akurat dan rutin baik yang dilakukan oleh perawat/bidan maupun tenaga kesehatan lainnya. Audit jaminan kualitas membantu untuk menetapkan suatu akreditasi pelayanan keperawatan dalam mencapai standar yang telah ditetapkan.
7.  Sebagai sumber data perencanaan asuhan keperawatan berkelanjutan Dengan dokumentasi akan didapatkan data yang aktual dan konsisten mencakup seluruh kegiatan keperawatan yang dilakukan melalui tahapan kegiatan proses keperawatan.  

C. Aspek Legal Dalam Dokumentasi
Dokumen asuhan keperawatan harus mudah dibaca, berisi data akurat dan dapat mengkomunikasikan informasi penting tentang seorang pasien yang ditangani oleh perawat ke beberapa professional. Dokumentasi asuhan keperawatan bisa menjadi landasan berbagai kasus gugatan dan menjadi alat membela diri bagi perawat dan institusi pelayanan kesehatan yang bersangkutan. Dapat digunakan sebagai bukti penting dalam mengevaluasi asuhan yang telah diberikan oleh perawat.
1.  Komunikasi
a.  Koordinasi asuhan keperawatan
b. Mencegah informasi yang berulang
c. Menurunkan kesalahan dan meningkatkan asuhan keperawatan
d. Penggunaan waktu yang efisien
2.  Mekanisme pertanggunggugatan
a.  Dapat dipertanggung jawabkan kualitas maupun kebenarannya
b. Secara hukum dapat melindungi bidan
3.  Metoda pengumpulan data kemajuan klien yang dapat dipercaya
a. Detaksi kecenderungan yang mungkin terjadi
b. Bahan penelitian
c. Data statistik
4.  Sarana keperawatan secara individual
5.  Sarana untuk evaluasi
6.  Sarana untuk meningkatkan kerjasama antar disiplin dalam tim kesehatan
7.  Sarana pendidikan lanjutan
8.  Audit untuk memantau kualitas pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan yang diterima dalam kompetensi yang berhubungan dengan asuhan keperawatan.  

D. Prinsip – Prinsip Pendokumentasian Isi Pencatatan
1.  Mengandung nilai administratif
Misalnya rangkaian pendokumentasian kegiatan pelayanan keperawatan merupakan alat pembelaan yang sah manakala terjadi gugatan.
2.  Mengandung nilai hukum
Misalnya catatan medis kesehatan keperawatan dapat dijadikan sebagai pegangan hukum bagi rumah sakit, petugas kesehatan, maupun pasien.
3.  Mengandung nilai keuangan
Kegiatan pelayanan medis keperawatan akan menggambarkan tinggi rendahnya biaya perawatan yang merupakan sumber perencanaan keuangan rumah sakit.
4.  Mengandung nilai riset
Pencatatan mengandung data, atau informasi, atau bahan yang dapat digunakan sebagai objek penelitian, karena dokumentasi merupakan informasi yang terjadi di masa lalu.
5.  Mengandung nilai edukasi
Pencatatan medis keperawatan/kebidanan dapat digunakan sebagai referensi atau bahan pengajaran di bidang profesi si pemakai.

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUANG RASA AMAN ANSIETAS

A.   Konsep Dasar Teori

1.    Pengertian

Ansietas adalah keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf otonom dalam merespon terhadap ancaman yang tidak jelas, non spesifik (Linda Juall Carpenito, Edisi 8).

Ansietas adalah perasaan yang tidak jelas tentang keprihatinan dan khawatir karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang (May, 1987).

Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas menyebar dialam dan terkait dengan perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan perasaan isolasi, keterasingan dan ketidakamanan juga hadir (Stuart dan Laraia, 2005).

2.    Etiologi

Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami ansietas (Hawari, 2008), sebagai berikut:

a.    Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.

b.    Merasa tegang, tidak senang, gelisah, mudah terkejut

c.    Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang

d.    Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan

e.    Gangguan konsentrasi dan daya ingat

f.     Keluhan-keluhan somatik

3.    Tingkatan ansietas

Menurut Stuart dan Sundeen (1998:175-176), tingkatan ansietas sebagai berikut:

a.    Ansietas ringan

Ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadikan waspada dan meningkatkan lahan persepsinya.

b.    Ansietas sedang

Memusatkan pada hal yang penting dan mengesapingkan yang lain, sehinggga seseorang mengalami perhatian yang selektif.

c.    Ansietas berat

Cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain.

d.    Tingkat panik

Peningkatan aktifitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang, kehilangan pemikiran rasional.

4.    Pengukuran kecemasan

Mengetahui derajat kecemasan ringan, sedang, berat dan panik dikenal dengan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRSA). Terdiri dari 10 kelompok gejala yang masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka, yaitu:

Nilai 0 (tidak ada gejala yang muncul)                     = tidak ada gejala

Nilai 1 (hanya 1 gejala yang muncul)                       = gejala ringan

Nilai 2 (sebagian gejala yang muncul)                      = gejala sedang

Nilai 3 (lebih dari sebagian gejala yang muncul)      = gejala berat

Nilai 4 (seluruh gejala yang muncul)                        = gejala berat sekali/panik

10 komponen kecemasan yaitu:

a.    Perasaan cemas

b.    Ketegangan

c.    Ketakutan

d.    Gangguan tidur

e.    Gangguan kecerdasan

f.     Perasaan depresi

g.    Gejala somatik

h.    Gejala sensorik

i.     Gejala kardiovaskuler

j.     Gejala pernafasan

5.    Faktor predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia (1998:177-181) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan ansietas, diantaranya:

a.    Faktor biologis

Otak mengadung reseptor untuk benzodiazepin, membantu mengatur ansietas. Penghambat GABA berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya endorfin.

b.    Faktor psikologis

Pandangan psikoanalitik

Konflik emosional antara 2 elemen yaitu: id (dorongan insting atau impuls primitif) dan superego (hati nurani). Ego berfungsi menengahi tuntutan dari 2 elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

Pandangan interpersonal.

Perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal

Pandangan prilaku.

Merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

c.    Sosial budaya

Merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Faktor ekonomi, latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.

6.    Faktor presipitasi

Faktor presipitasi dibedakan menjadi:

a.    Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang dan menurunya kapasitas untuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari.

b.    Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial

7.    Mekanisme koping

Mekanisme koping adalah distorsi kognitif yang digunakan oleh seseorang untuk mempertahankan rasa kendali terhadap situasi, mengurangi rasa tidak nyaman dan menghadapi situasi yang menimbulkan stres (Videbeck, 2008).

mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (Stuart dan Sundeen, 2002), yaitu:

a.    Mekanisme koping adaptif

Mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan.

b.    Mekanisme koping maladaptif

Mekanisme koping yang menghambat fungsing integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.

Ada 2 sistem koping yang digunakan pada seseorang yang mengalami kecemasan, (Stuart, 2006), yaitu:

a.    Reaksi orientasi tugas (Task Oriented Reaction)

Ada 3 reaksi yang berorientasi pada tugas, yaitu:

1).   Prilaku menyerang

Digunakan untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.

2).   Prilaku menarik diri

Digunakan untuk menghilangkan sumber-sumber ancaman baik secara fisik maupun psikologis.

3).   Prilaku kompromi

Digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang.

b.    Mekanisme pertahanan ego (Ego Oriented Reaction)

Reaksi ini berguna untuk melindungi diri yang merupakan garis pertahanan jiwa pertama.

B.   Konsep Dasar Askep

Batasan karakteristik

Mayor (Adams et al, 1997), harus terdapat:

a.     Fisiologis

b.    Emosional

c.     Kognitif

1.    Pengkajian

a.    Data subyektif

1).   Fisiologis

Individu mengatakan:

a).    Gelisah

b).    Berdebar-debar

c).    Sering berkemih

d).   Diare

f).    Sakit dan nyeri tubuh

g).    Pusing/mau pingsan

h).    Rasa panas/dingin

i).     Anoreksia

2.    Emosional

Individu mengatakan bahwa ia merasakan:

a).    Ketakutan

b).    Ketidakberdayaan

c).    Gugup

d).   Kurang percaya diri

e).    Ketegangan

f).    Kehilangan kontrol

g).    Tidak dapat rileks

3.    Kognitif

Individu mengatakan:

a).    Tidak dapat konsentrasi

4.    Faktor-faktor yang berhubungan

a).   Berhubungan dengan ancaman aktual atau yang dirasakan terhadap konsep diri sekunder akibat:

(1).  Perubahan status atau prestise

(2).  Kegagalan

(3).  Dilema etis

b).   Berhubungan dengan ancaman integritas biologis aktual atau yang dirasakan sekunder akibat:

(1).  Sekarat

(2).  Serangan

(3).  Prosedur invasif

(4).  Penyakit

c).   Berhubungan dengan perubahan dalam lingkungan aktual atau yang dirasakan akibat:

(1).  Hospitalisasi

b.    Data obyektif

1).   Fisiologis

a).    Peningkatan frekwensi jantung

b).    Peningkatan tekanan darah

c).    Peningkatan frekwensi pernafasan

d).   Pucat atau kemerahan

e).    Mulut kering

f).    Dilatasi pupil

g).    Suara tremor

h).    Gelisah

2).   Emosional

Individu memperlihatkan

a).    Peka rangsang/tidak sabar

b).    Marah berlebihan dan menangis

c).    Cenderung menyalahkan orang lain

d).   Menarik diri

f).    Kurang inisiatif

g).    Mencela diri

h).    Kontak mata buruk

3).   Kognitif

a).    Penurunan kemampuan belajar

b).    Mudah lupa

c).    Konfusi

2.   Diagnosa keperawatan

a.    Gangguan rasa aman ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan

b.    Gangguan rasa aman ansietas berhubungan dengan hospitalisasi

c.    Gangguan rasa aman ansietas berhubungan dengan prosedur operasi

3.    Perencanaan

a.    Rencana tindakan

1).   Kaji tingkat ansietas pasien/keluaga

2).   Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga

3).   Pertahankan kontak sering dengan pasien/keluarga untuk mendengarkan masalah dan perasaan pasien/keluarga

4).   Sediakan informasi yang akurat tentang penyakit, pengobatan, dan perkembangan penyakit

5).   Berikan kenyamanan dan ketentraman hati

6).   Hindari harapan-harapan kosong dengan menyediakan informasi yang spesifik

7).   Libatkan pasien/keluarga dalam rencana perawatan dan dorong partisipasi maksimum pada rencana pengobatan

8).   Pahami rasa takut/ansietas

9).   Identifikasi cara-cara dimana pasien/keluarga mendapatkan bantuan jika dibutuhkan

10). Dorong/intruksikan metode bimbingan imajinasi/relaksasi mental

b.    Rencana tujuan

1).   Tingkat ansietas yang dialami teridentifikasi ringan, sedang, berat, panik

2).   Informasi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami

3).   Memantapkan hubungan, meningkatkan ekspresi perasaan dan membantu pasien/keluarga untuk melihat realitas dari penyakit/pengobatan.

4).   Meningkatnya pemahaman tentang penyakit, pengobatan, dan perkembangan penyakit

5).   Memenuhi kebutuhan dasar manusia, penurunan rasa terisolasi dan mengurangi perasaan khawatir

6).   Memberikan kesempatan kepada pasien/keluarga untuk merasa terjamin

7).   Membantuk memfokuskan perhatian pasien/keluarga dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol

8).   Membantu pasien/keluarga untuk terbuka sehingga dapat mendiskusikan dan menghadapinya

9).   Memberi jaminan bahwa staf bersedia untuk mendukung/membantu

10). Meningkatkan pelepasan endorfin dan membantu dalam perkembangan kontrol lokus internal, mengurangi ansietas.

4.    Pelaksanaan

a.    Mengkaji tingkat ansietas pasien/keluarga

b.    Mengkaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga

c.    Melakukan kontak dengan pasien/keluarga, mendengarkan masalah dan perasaan, membina hubungan saling percaya

d.    Memberikan informasi yang akurat tentang penyakit, pengobatan, dan perkembangan penyakit

e.    Memberikan kenyamanan dan ketentraman hati dengan berbicara perlahan dan tenang, mengunakan kalimat yang pendek dan sederhana

f.     Memberikan informasi yang spesifik tentang penyakit, pengobatan dan perkembangan penyakit

g.    Melibatkan pasien/keluarga dalam rencana perawatan dan mendorong partisipasi maksimum pada rencana pengobatan

h.    Memahami rasa takut/ansietas pasien/keluarga

i.     Memberi informasi dimana pasien/keluarga bisa mendapatkan bantuan

j.     Memberikan bimbingan imajinasi/relaksasi

5.    Evaluasi

a.    Tingkat ansietas teridentifikasi

b.    Informasi dapat diterima dan dipahami

c.    Terbina hubungan saling percaya

d.    Pasien/keluarga paham tentang penyakit, pengobatan, dan perkembangan penyakit

e.    Kebutuhan dasar manusia terpenuhi, perasaan terisolasi dan khawatir berkurang

f.     Pasien/keluarga merasa terjamin

g.    Pasien/keluarga terfokus, terkontrol dan berpartisipasi dalam rencana pengobatan

h.    Pasien/keluarga bersikap terbuka, dapat berdiskusi dan menghadapinya

i.     Pasien/keluarga merasa terjamin

j.     Ansietas berkurang

Daftar Pustaka:

       Lynda Juall Carpenito, edisi 8

       Marilynn E Doenges, Mary Frances Moorhouse, Alice C. Geissler, edisi 3

       Jurnal,pdf.info/pdf/ansietas.html

 WOC

GANGGUAN RASA AMAN ANSIETAS

FAKTOR-FAKTOR ETIOLOGI

FAKTOR PREDISPOSISI DAN FAKTOR PRETISIPASI

PENILAIAN TERHADAP STRESOR

SUMBER KOPING

MEKANISME KOPING MALADAPTIF

INDEKS MASSA TUBUH

A.      Pengertian

IMT atau sering juga disebut indeks Quatelet pertama kali ditemukan oleh seorang ahli matematika Lambert Adolphe Jacques Quatelet adalah alat pengukuran komposisi tubuh yang paling umum dan sering digunakan. Beberapa studi telah mengungkapkan bahwa IMT adalah alat pengukuran yang berguna untuk mengukur obesitas, dan telah direkomendasikan untuk evaluasi klinik pada obesitas anak (Daniels et al, 1997).

IMT merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan indeks quatelet (berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m2)). Interprestasi IMT tergantung pada umur dan jenis kelamin anak karena anak lelaki dan perempuan memiliki kadar lemak tubuh yang berbeda. IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan obesitas serta berkolerasi tinggi dengan massa lemak tubuh, selain itu juga penting untuk mengidentifikasi pasien obesitas yang mempunyai risiko komplikasi medis (Pudjiadi et al, 2010).

Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai yang diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) seseorang. IMT dipercayai dapat menjadi indikator atau mengambarkan kadar adipositas dalam tubuh seseorang. IMT tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi penelitian menunjukkan bahwa IMT berkorelasi dengan pengukuran secara langsung lemak tubuh seperti underwater weighing dan dual energy x-ray absorbtiometry (Grummer-Strawn LM et al.,2002).

IMT merupakan altenatif untuk tindakan pengukuran lemak tubuh karena murah serta metode skrining kategori berat badan yang mudah dilakukan. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut:

Menurut rumus metrik:

IMT =    Berat Badan (Kg)

[Tinggi Badan (m)]2

Atau menurut rumus Inggris:

IMT = Berat badan (lb) / [Tinggi badan (in)]2 x 703

B.      Kategori Indeks Massa Tubuh

Untuk orang dewasa yang berusia 20 tahun keatas, IMT diinterpretasi menggunakan kategori status berat badan standard yang sama untuk semua umur bagi pria dan wanita. Untuk anak-anak dan remaja, intrepretasi IMT adalah spesifik mengikut usia dan jenis kelamin (CDC, 2009).

Secara umum, IMT 25 ke atas membawa arti pada obesitas. Standar baru untuk IMT telah dipublikasikan pada tahun 1998 mengklasifikasikan BMI di bawah 18,5 sebagai sangat kurus atau underweight, IMT melebihi 23 sebagai berat badan lebih atau overweight, dan IMT melebihi 25 sebagai obesitas. IMT yang ideal bagi orang dewasa adalah diantara 18,5 sehingga 22,9. Obesitas dikategorikan pada tiga tingkat: tingkat I (25-29,9), tingkat II (30-40), dan tingkat III (>40) (CDC, 2002).

Tabel 1: Klasifikasi Indeks Massa Tubuh (WHO, 2004)

Classificasion

BMI (kg/m2)

Principal cut-off points

Underweight

Severe thinness

Moderate thinness

Mild thinness

< 18,50

< 16,00

16,00 – 16,99

17,00 – 18,49

Normal Range

18,50 – 25,99

Pre Obese

25,00 – 29,99

Obese

Obese class I

Obese class II

Obese class III

>30,00

30,00 – 34,99

35,00 – 39,99

>40,00

Untuk kepentingan Indonesia, batas ambang dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang. Pada akhirnya diambil kesimpulan, batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

Tabel 2.3 Batas Ambang IMT Indonesia (Depkes, 2003)

Gender

Kategori IMT (Kg/m2)

Kurus

Normal

Kegemukan

Tingkat

ringan

Tingkat berat

Pria

<18 kg/m2

18 – 25

kg/m2

>25 – 27

kg/m2

>27 kg/m2

Wanita

<17 kg/m2

17 – 23

kg/m2

>23 – 27

kg/m2

Keterangan :

–      IMT < 17,0: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat berat atau Kurang Energi Kronis (KEK) berat.

–      IMT 17,0 – 18,4: keadaan orang tersebut disebut kurus dengan kekurangan berat badan tingkat ringan atau KEK ringan.

–      IMT 18,5 – 25,0: keadaan orang tersebut termasuk kategori normal.

–      IMT 25,1 – 27,0: keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat ringan.

–      IMT > 27,0: keadaan orang tersebut disebut gemuk dengan kelebihan berat badan tingkat berat (Direktorat Gizi Masyarakat RI, 2000)

1.    Indeks Massa Tubuh (IMT) kategori kurus

Indeks massa tubuh di kategorikan kurus jika pembagian berat per kuadrat tingginya kurang dari 18 kg/m2. Penyebabnya rata-rata dikarenakan konsumsi energi lebih rendah dari kebutuhan yang mengakibatkan sebagian cadangan energi tubuh dalam bentuk lemak akan digunakan. Kerugiannya jika seseorang masuk dalam kategori ini antara lain :

a.     Penampilan cenderung kurang menarik

b.    Mudah letih

c.     Resiko sakit tinggi, beberapa resiko sakit yang dihadapi antara lain: penyakit infeksi, depresi, anemia dan diare

d.    Wanita kurus kalau hamil mempunyai resiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah

e.     Kurang mampu bekerja keras.

2.    Indeks Massa Tubuh (IMT) kategori normal

Indeks massa tubuh masuk ketegori normal jika pembagian berat per kuadrat tingginya antara 18 sampai 25 kg/m2. Kategori ini bisa diwujudkan dengan mengkonsumsi energi sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan tubuh. Sehingga tidak terjadi penimbunan energi dalam bentuk lemak, maupun penggunaan lemak sebagai sumber energi. Keuntungan dari IMT yang normal ini antara lain:

a.     Penampilan menarik, proporsional, dan lincah

b.    Resiko penyakit bisa di minimalisir menjadi lebih rendah.

Adapun cara untuk mempertahankan IMT dalam grid yang normal ini adalah:

a.     Mempertahankan kebiasaan makan sehari-hari dengan susunan menu gizi seimbang.

b.    Perlu kebiasaan olah raga yang teratur.

c.     Tetap melakukan kebiasaan fisik sehari-hari.

3.    Indeks Massa Tubuh (IMT) kategori berlebihan (kegemukan)

Menurut Direktorat Gizi Masyarakat RI tahun 2002, kegemukan atau obesitas digolongkan menjadi dua kategori, yaitu:

a.     Kelebihan berat badan tingkat ringan

b.    Kelebihan berat badan tingkat berat.

Obesitas berpotensi menjadi faktor primer kasus degeneratif dan metabolik sindrom. Beberapa studi menunjukkan bahwa obesitas adalah risiko yang paling tinggi untuk penyakit jantung, DM, dan beberapa jenis kanker. Adapun kerugian atau resiko dari kategori ini adalah:

a.     Penampilan kurang menarik

b.    Gerakan tidak gesit dan lambat

c.     Merupakan faktor resiko penyakit: Jantung dan pembuluh darah, Kencing manis (diabetes mellitus), Tekanan darah tinggi, Gangguan sendi dan tulang (degeneratif), Gangguan fungsi ginjal, Kanker, Pada wanita dapat mengakibatkan gangguan haid (haid tidak teratur), faktor penyulit pada saat persalinan (Charlotte, 2000).

 

C.      Kekurangan dan Kelebihan Indeks Massa Tubuh

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan salah satu indikator yang dapat dipercayai untuk mengukur lemak tubuh. Walaubagaimanapun, terdapat beberapa kekurangan dan kelebihan dalam mnggunakan IMT sebagai indikator pengukuran lemak tubuh. Kekurangan indeks massa tubuh adalah:

1.    Pada olahragawan

Tidak akurat pada olahragawan (terutama atlet bina) yang cenderung berada pada kategori obesitas dalam IMT disebabkan mereka mempunyai massa otot yang berlebihan walaupun presentase lemah tubuh mereka dalam kadar yang rendah. Sedangkan dalam pengukuran berdasarkan berat badan dan tinggi badan, kenaikan nilai IMT adalah disebabkan oleh lemak tubuh.

2.    Pada anak-anak

Tidak akurat karena jumlah lemak tubuh akan berubah seiringan dengan pertumbuhan dan perkembangan tubuh badan seseorang. Jumlah lemak tubuh pada lelaki dan perempuan juga berbeda selama pertumbuhan. Oleh itu, pada anak-anak dianjurkan untuk mengukur berat badan berdasarkan nilai persentil yang dibedakan atas jenis kelamin dan usia.

3.    Pada kelompok bangsa

Tidak akurat pada kelompok bangsa tertentu karena harus dimodifikasi mengikut kelompok bangsa tertentu. Sebagai contoh IMT yang melebihi 23,0 adalah berada dalam kategori kelebihan berat badan dan IMT yang melebihi 27,5 berada dalam kategori obesitas pada kelompok bangsa seperti Cina, India, dan Melayu. (CORE, 2007).

Kelebihan indeks massa tubuh adalah:

1.    Biaya yang diperlukan tidak mahal

2.    Untuk mendapat nilai pengukuran, hanya diperlukan data berat badan dan tinggi badan seseorang.

3.    Mudah dikerjakan dan hasil bacaan adalah sesuai nilai standar yang telah dinyatakan pada table IMT.

ANTROPOMETRI

A.   Pengertian Antropometri

Antropometri berasa dari kata antropos yang artinya tubuhdan metros yang berarti ukuran. Jadi antropometri artinya ukuran tubuh. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Jellife, 1966).

Sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

Syarat-syarat yang mendasari penggunaan Antropometri yaitu:

1.    Alat mudah didapat dan digunakan

2.    Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif

3.    Pengukuran tidak selalu harus oleh tenaga khusus profesional, dapat oleh tenaga lain setelah mendapat pelatihan

4.    Biaya relatif murah

5.    Hasilnya mudah disimpulkan, memiliki cutt of point dan baku rujukan yang sudah pasti

6.    Secara ilmiah diakui kebenarannya

Penggunaan Antropometri memiliki beberapa keunggulan, seperti:

1.    Prosedur sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel cukup besar

2.    Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli

3.    Alat murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat

4.    Metode ini tepat dan akurat, karena dapat dibakukan

5.    Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau

6.    Umumnya dapat mengidentifikasi status buruk, kurang dan baik, karena sudah ada ambang batas yang jelas

7.    Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya

8.    Dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi

Selain memiliki keunggulan, penggunaan Antropometri juga memiliki beberapa kelemahan, seperti:

1.    Tidak sensitif, artinya tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat, tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu, misal Fe dan Zn

2.    Faktor di luar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri

3.    Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran

4.    Kesalahan terjadi karena: pengukuran, perubahan hasil pengukuran (fisik dan komposisi jaringan), analisis dan asumsi yang keliru

5.    Sumber kesalahan biasanya berhubungan dengan: latihan petugas yang tidak cukup, kesalahan alat, kesulitan pengukuran

B.   Pengukuran Antropometri

Penilaian Pertumbuhan

Penilaian Massa Bebas Lemak (Fat-Free Mass)

Penilaian Massa Lemak (Fat Mass)

1.  Lingkar kepala2.  Berat badan3.  Tinggi/panjang badan

4.  Perubahan berat badan

5.  Rasio berat/tinggi

6.  Tinggi lutut

7.  Lebar siku

1.  Lingkar lengan atas (LILA)2.  Mid-upper-arm muscle circumference (MUAMC)3.  Mid-upper-arm muscle (MUAMA) 1.  Triceps skinfold2.  Biseps skinfold3.  Subscapular skinfold

4.  Suprailiac skinfold

5.  Mid-upper-arm fat area

6.  Rasio lingkar pinggang panggul (waist-hip circumference ratio)

C.   Jenis Parameter Antropometri

Sebagai indikator status gizi, antropometri dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia. Jenis-jenis parameter antropometri, antara lain:

1.    Umur

Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi. Kesalahan penentuan umur meningkatkan interpretasi status gizi salah. Batasan umur yang digunakan (Puslitbang Gizi Bogor, 1980), yaitu:

a.    Tahun umur penuh (completed year)

Contoh: 6 tahun 2 bulan, dihitung 6 tahun

5 tahun 11 bulan, dihitung 5 tahun

b.    Bulan usia penuh (completed month): untuk anak umur 0-2 tahun digunakan

Contoh: 3 bulan 7 hari, dihitung 3 bulan

2 bulan 26 hari, dihitung 2 bulan

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melengkapi data umur, seperti:

a.    Meminta surat kelahiran, kartu keluarga atau catatan lain yang dibuat oleh orang tuanya. Jika tidak ada, bila memungkinkan catatan pamong desa

b.    Jika diketahui kalender lokal seperti bulan Arab atau bulan lokal (Sunda, Jawa dll), cocokan dengan kalender nasional

c.    Jika tetap tidak ingat, dapat berdasarkan daya ingat ortu, atau berdasar kejadian penting (lebaran, tahun baru, puasa, pemilihan kades, pemilu, banjir, gunung meletus dll)

d.    Membandingkan anak yang belum diketahui umurnya dengan anak kerabat/ tetangga yang diketahui pasti tanggal lahirnya.

e.    Jika hanya bulan dan tahunnya yang diketahui, tanggal tidak diketahui, maka ditentukan tanggal 15 bulan yang bersangkutan.

2.    Berat Badan

Merupakan ukuran antropometri terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR. Pada masa bayi-balita berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat juga digunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan.

Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun. Pada klien edema dan asites, terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi.

Terdapat beberapa alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama, yaitu:

a.    Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan konsumsi makanan dan kesehatan

b.    Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan gambaran pertumbuhan

c.    Umum dan luas dipakai di Indonesia

d.    Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur

e.    Digunakan dalam KMS

f.     BB/TB merupakan indeks yang tidak tergantung umur

g.    Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi, seperti: dacin

3.    Tinggi Badan

Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaa normal, TB tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan TB tidak seperti BB, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap TB akan nampak dalam waktu yang relatif lama.

Tinggi Badan (TB) merupakan parameter paling penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat. Tinggi badan juga merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan BB terhadap TB (quac stick) faktor umur dapat dikesampingkan.

Alat untuk mengukur tinggi badan diantaranya:

a.    Alat Pengukur Panjang Badan Bayi

Alat ini dipergunakan pada bayi atau anak yang belum dapat berdiri.

b.    Microtoise:

Dipergunakan untuk anak yang sudah bisa berdiri

4.    Lingkar Lengan Atas

Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:

a.    Status KEP pada balita

b.    KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko bayi BBLR

Alat yang dipergunakan untuk mengukur lingkar lengan atas adalah suatu pita pengukur dari fiber glass atau sejenis kertas tertentu berlapis plastik.

Ambang batas (Cut of Points) dari lingkar lengan atas adalah:

a.    LLA WUS dengan risiko KEK di Indonesia < 23.5 cm

b.    Pada bayi 0-30 hari : ≥9.5 cm

c.    Balita dengan KEP <12.5 cm

Kelemahan parameter lingkar lengan atas adalah:

a.    Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia

b.    Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB

c.    Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa

5.    Lingkar Kepala

Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran anak secara praktis, biasanya untuk memeriksa keadaan patologi dari besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala. Contoh: hidrosefalus dan mikrosefalus

Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi. Dalam antropometri gizi rasio lingkar kepala dan lingkar dada cukup berarti dan menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala juga digunakan sebagai informasi tambahan daam pengukuran umur.

6.    Lingkar Dada

Biasa digunakan pada anak umur 2-3 tahun, karena pertumbuhan lingkar dada pesat sampai anak berumur 3 tahun. Rasio lingkar dada dan kepala dapat digunakan sebagai indikator KEP pada balita. Pada umur 6 bulan lingkar dada dan kepala sama. Setelah umur ini lingkar kepala tumbuh lebih lambat daripada lingkar dada. Pada anak yang KEP terjadi pertumbuhan lingkar dada yang lambat dengan rasio lingkar dada dan kepala < 1.

7.    Tinggi Lutut

Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia. Pada lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa tulang,  bertambah bungkuk, sehimgga bertambah sukar untuk mendapatkan data tinggi badan akurat. Data tinggi badan lansia dapat menggunakan formula atau nomogram bagi orang yang berusia >59 tahun.

Formula (Gibson, RS; 1993):

Pria                : (2.02 x tinggi lutut (cm)) – (0.04 x umur (tahun)) + 64.19

Wanita          : (1.83 x tinggi lutut (cm)) – (0.24 x umur (tahun)) + 84.88

8.    Jaringan Lunak

Otot dan lemak merupakan jaringan lunak yang bervariasi. Antropometri dapat dilakukan pada jaringan tersebut untuk menilai status gizi di masyarakat. Lemak subkutan (subcutaneous fat), penilaian komposisi tubuh termasuk untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak dapat dilakukan dengan beberapa metode, dari yang paling sulit hingga yang paling mudah. Metode yang digunakan untuk menilai komposisi tubuh (jumlah dan distribusi lemak sub-kutan) antara lain:

a.    Ultrasonik

b.    Densitometri (melalui penempatan air pada densitometer atau underwater weighting)

c.    Teknik Isotop Dilution

d.    Metoda Radiological

e.    Total Electrical Body Conduction (TOBEC)

f.     Antropometri (pengukuran berbagai tebal lemak menggunakan kaliper: skin-fold calipers)

Metode yang paling sering dan praktis digunakan di lapangan adalah  Antropometri fisik. Standar atau jangkauan jepitan 20-40 mm2, ketelitian 0.1 mm, tekanan konstan 10 g/ mm2. Jenis alat yang sering digunakan Harpenden Calipers, alatini memungkinkan jarum diputar ke titik nol apabila terlihat penyimpangan. Ada beberapa pengukuran tebal lemak dengan menggunakan kaliper, antara lain:

a.    Pengukuran triceps

b.    Pengukuran bisep

c.    Pengukuran suprailiak

d.    Pengukuran subskapular

D.   Indeks Antropometri

Adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri merupakan rasio dari suatu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur.

Terdapat beberapa indeks antropometri, antara lain:

1.    BB/U (Berat Badan terhadap Umur)

Kelebihan:

a.    Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat

b.    Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis

c.    Indikator status gizi kurang saat sekarang

d.    Sensitif terhadap perubahan kecil

e.    Growth monitoring

f.     Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi atau KEP

g.    Dapat mendeteksi kegemukan (overweight)

Kekurangan:

a.    Kadang umur secara akurat sulit didapat

b.    Dapat menimbulkan interpretasi keliru bila terdapat edema maupun asites

c.    Memerlukan data umur yang akurat terutama untuk usia balita

d.    Sering terjadi kesalahan dalam pengukruan, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak saat ditimbang

e.    Secara operasional: hambatan sosial budaya, tidak mau menimbang anak karena seperti barang dagangan

2.    TB/ U (Tinggi Badan terhadap Umur)

Menurut Beaton dan Bengoa (1973) indeks TB/U dapat memberikan status gizi masa lampau dan status sosial ekonomi.

Kelebihan:

a.    Baik untuk menilai status gizi masa lampau

b.    Alat dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa

c.    Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa

Kekurangan:

a.    TB tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun

b.    Diperlukan 2 orang untuk melakukan pengukuran, karena biasanya anak relatif sulit berdiri tegak

c.    Ketepatan umur sulit didapat

3.    BB/ TB (Berat Badan terhadap Tinggi Badan)

BB memiliki hubungan linear dengan TB. Dalam keadaan normal perkembangan BB searah dengan pertumbuhan TB dengan kecepatan tertentu.

Kelebihan:

a.    Tidak memerlukan data umur

b.    Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus)

c.    Dapat menjadi indikator status gizi saat ini (current nutrition status)

Kekurangan:

a.    Karena faktor umur tidak dipertimbangkan, maka tidak dapat memberikan gambaran apakah anak pendek atau cukup TB atau kelebihan TB menurut umur

b.    Operasional: sulit melakukan pengukuran TB pada balita

c.    Pengukuran relatif lebih lama

d.    Memerlukan 2 orang untuk melakukannya

e.    Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok nonprofesional

4.    Lila/ U (Lingkar Lengan Atas terhadap Umur)

Lingkar lengan atas (LLA) berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Seperti BB, LLA merupakan parameter yang labil karena dapat berubah-ubah cepat, karenanya baik untuk menilai status gizi masa kini. Perkembangan LLA (Jellife`1996):

a.    Pada tahun pertama kehidupan             : 5.4 cm

b.    Pada umur 2-5 tahun                 : <1.5 cm

Kurang sensitif untuk tahun berikutnya

Penggunaan LLA sebagai indikator status gizi, disamping digunakan secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan parameter lainnya seperti LLA/U dan LLA/TB (Quack Stick).

Kelebihan:

a.    Indikator yang baik untuk menilai KEP berat

b.    Alat ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader posyandu dapat melakukannya

c.    Dapat digunakan oleh orang yang tidak membaca tulis, dengan memberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi

Kekurangan:

a.    Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat

b.    Sulit menemukan ambang batas

c.    Sulit untuk melihat pertumbuhan anak 2-5 tahun

5.    Indeks Massa Tubuh (IMT)

IMT digunakan berdasarkan rekomendasi FAO/WHO/UNO tahun 1985: batasan BB normal orang dewasa ditentukan berdasarkan Body Mass Index (BMI/IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa (usia 18 tahun ke atas), khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan BB. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Juga tidak dapat diterapkan pada keadaan khsusus (penyakit) seperti edema, asites dan hepatomegali.

Masa Tubuh (IMT):

IMT   =         BB (kg)

TB2 (m)

Batas Ambang IMT menurut FAO membedakan antara laki-laki (normal 20,1-25,0 ) dan perempuan (normal18,7-23,8). Untuk menentukan kategori kurus tingkat berat pada laki-laki dan perempuan juga ditentukan ambang batas. Di Indonesia, dimodifikasi berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang.

Kategori Ambang Batas IMT untuk Indonesia

Kategori IMT
Kurus Kekurangan BB tingkat berat < 17,0
Kekurangan BB tingkat ringan 17,0-18,5
Normal > 18,7-25,0
Gemuk Kelebihan BB tingkat ringan > 25,0-27,0
Kelebihan BB tingkat berat > 27,0

6.    Tebal Lemak Bawah Kulit menurut Umur

Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya: lengan atas (tricep dan bicep), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatellar), pertengahan tungkai bawah (medial calv).

Lemak dapat diukur secara absolut (dalam kg) dan secara relatif (%) terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi ditentukan oleh jenis kelamin dan umur. Lemak bawah kulit pria 3.1 kg, wanita 5.1 kg

7.    Rasio Lingkar Pinggang dan Pinggul

Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme, termasuk terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh.

Ukuran yang umur digunakan adalah rasio lingkar pinggang-pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan pinggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tepat, karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang berbeda. Rasio lingkar pinggang-pinggul untuk perempuan: 0.77, laki-laki: 0.90 (Seidell dkk, 1980).

Suatu studi prospektif menunjukkan rasio pinggang-pinggul berhubungan dengan penyakit kardiovaskular. Rasio lingkar pinggang dan pinggul penderita penyakit kardiovaskular dengan orang sehat 0.938 dan 0.925

E.   Kontrol Kualitas Data Antropometri

Dilakukan sesuai dengan standar prosedur pengumpulan data antropometri. Standar prosedur bertujuan membantu para peneliti untuk:

1.    Mengetahui cara membandingkan presisi pengukuran terpisah yang dilakukan secara berulang terhadap subyek yang sama

2.    Tingkat presisi dan akurasi seorang petugas

3.    Penyebab kesalahan pengukuran

Presisi:     kemampuan mengukur subyek yang sama secara berulang-ulang dengan kesalahan yang minimum

Akurasi:    kemampuan untuk mendapatkan hasil yang sedekat mungkin dengan penyelia (supervisor)

F.    Kesalahan dalam Pengukuran Antropometri

Ada beberapa kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi dalam melakukan pengukuran Antropometri, seperti:

1.    Kesalahan pengukuran

2.    Kesalahan alat

3.    Kesalahan tenaga yang mengukur

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesalahan pengukuran, antara lain:

1.    Memilih alat ukur yang sesuai

2.    Membuat aturan pelaksanaan pengukuran

3.    Pelatihan petugas

4.    Peneraan alat ukur secara berkala

5.    Pengukuran silang antar observer dan pengawasan (uji petik)

G.   Ambang Batas (Cut off Points)

Dari berbagai jenis indeks antropometri diperlukan ambang batas untuk menginterpretasikannya. Ambang batas dapat disajikan dalam 3 cara, yaitu:

1.    Persen terhadap Median

Nilai median adalah nilai tengah dari suatu populasi. Dalam antropometri gizi, median = persentil 50. Nilai median ini dinyatakan = 100% (untuk standar). Setelah itu, dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas.

Contoh:

BB anak umur 2 tahun = 12 kg, maka 80% median = 9.6 kg, 60% median = 7.2 kg. Jika 80% dan 60% dianggap ambang batas, maka anak umur 2 tahun mempunyai BB antara 7.2-9.6 kg (60-80% median) dinyatakan status gizi kurang dan dibawah 7.2 kg (<60% median) dinyatakan berstatus gizi buruk.

Status Gizi Berdasarkan Indeks Antropometri

Status Gizi Indeks
BB/U TB/U BB/TB
Gizi Baik > 80% > 90% > 90%
Gizi Sedang 71%-80% 81-90% 81-90%
Gizi Kurang 61%-70% 71-80% 71-80%
Gizi Buruk ≤ 60% ≤ 70% ≤ 70%

2.    Persentil

Para pakar merasa kurang puas menggunakan persen terhadap median. Persentil 50 sama dengan median dan nilai tengah dari jumlah populasi.

Contoh:

Ada 100 anak diukur tingginya, kemudian diurutkan dari yang terkecil. Ali berada pada urutan 15 berarti persentil 15, berarti 14 anak berada di bawahnya dan 85 anak berada di atasnya.

NCHS merekomendasikan:

Persentil ke-5 sebagai batas gizi baik dan kurang, persentil 95sebagai batas gizi lebih dan baik.

3.    Standar Deviasi Unit (SD) atau Z-Skor

SD disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau pertumbuhan:

1 SD unit (1 Z-skor) + sama dengan 11% dari median BB/U

1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 10% dari median BB/TB

1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 5% dari median TB/U

Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD untuk menyatakan ukuran pertumbuhan (Growth Monitoring). WHO memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NCHS

Contoh:

1 SD unit = 11-12% unit dari median BB/U, misalnya seorang anak berada pada 75% median BB/U berarti 25% unit berada di bawah median atau -2.

Pertumbuhan nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam positif dan negatif 2 SD unit (Z-skor) dari median, yang termasuk hampir 98% dari orang-orang yang diukur yang berasal dari referensi populasi. Di bawah -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi yang ekuivalen dengan:

78% dari median untuk BB/U (+ 3 persentil)

80% median untuk BB/TB

90% median untuk TB/U

Rumus perhitungan Z-skor:

Z-skor =        Nilai Individu Subjek – Nilai Median Baku Rujukan

Nilai Simpang Baku Rujukan

H.   Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi status gizi sangat ditentukan oleh cut-of point. Beberapa klasifikasi yang umum digunakan

Klasifikasi Status Gizi Indeks yangdigunakan Baku acuanyang digunakan Klasifikasi
Gomez BB/U Harvard Persentil 50 Kategori KEP: normal, ringan, sedang danberat
Wellcome Trust (kualitatif) BB/U Harvard Persentil 50 Kategori KEP: normal, ringan, sedang danberat
Waterlow BB/TB danTB/U Katagori KEP: akut (wasting) dan kronis(stunting)
Jellife BB/U Harvard Persentil 50 Kategori KEP: I, II, III, IV
Bengoa BB/U Harvard Persentil 50 Kategori KEP: I, II dan III
Direktorat Bina GiziMasyarakat Depkes RI BB/TB, BB/U dan TB/U WHO-NCHS Gizi lebih, baik, sedang, kurang dan buruk
BB/TB, BB/U dan TB/U WHO-NCHS

I.     Data Reference (Baku Acuan)

Ada 2 jenis baku acuan, yaitu lokal dan internasional. Terdapat beberapa baku acuan internasional : Harvard (Boston), WHO-NCHS, Tanner dan Kanada. Harvard dan WHO-NCHS adalah yang paling umum digunakan di seluruh negara. Distribusi data BB/U, TB/U dan BB/TB yang dipublikasikan WHO meliputi data anak umur 0-18 tahun. Data baku rujukan WHO-NCHS disajikan dalam 2 versi yaitu persentil dan Z-skor.

Waterlow, dkk 1977 (dalam Gizi Indonesia Vol XV No.2 1990), penentuan status gizi anak sebagai berikut:

1.    Di negara yang populasinya relatif well nourished, distribusi TB/U dan BB/TB sebaiknya digunakan persentil

2.    Di negara yang populasinya relatif undernourished, lebih baik digunakan Z-skor sebagai pengganti persen terhadap median baku rujukan. Tidak disarankan menggunakan indeks BB/U.

Berdasarkan Baku Harvard, status gizi dibagi menjadi 4, yaitu:

1.    Gizi lebih untuk overweight, termasuk kegemukan dan obesitas

2.    Gizi baik untuk well nourished

3.    Gizi kurang untuk under weight, mencakup mild dan moderate PCM

4.    Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwashiorkor dan kwashiorkor

Data Reference (Baku Acuan) di Indonesia

Sejak dekade 80-an Indonesia menggunakan 2 baku acuan internasional: Harvard dan WHO-NCHS. Semiloka Antropometri Ciloto, Februari 1991: saran pengajuan penggunaan secara seragam baku rujukan WHONCHS sebagai pembanding dalam penilaian status gizi dan pertumbuhan baik perorangan maupun masyarakat.

Kepmenkes RI Nomor:920/Menkes/SK/VIII/2002 tentang klasifikasi status gizi anak balita. Berdasarkan perkembangan iptek dan hasil temu pakar gizi Indonesia Mei 2000 di Semarang, standar baku antropometri yang digunakan secara nasional disepakati menggunakan standar baku WHO-NCHS 1983

Klasifikasi Status Gizi Anak Balita Berdasarkan Kepmenkes Nomor: 920/Menkes/SK/VIII/2002

Indeks Status Gizi Ambang Batas*)
BB/U Gizi Lebih > +2SD
Gizi baik > -2 SD sampai +2SD
Gizi kurang < -2SD sampai ≥ -3SD
Gizi buruk < -3SD
TB/U Normal ≥ 2SD
Pendek (stunted) < -2SD
BB/TB Gemuk > +2SD
Normal ≥ -2SD sampai +2SD
Kurus (wasted) < -2SD sampai ≥ -3SD
Kurus sekali < -3SD

J.    Aplikasi Antropometri di Indonesia

Penggunaan antropometri sebagai alat ukur status gizi semakin luas digunakan dalam program gizi, antara lain:

1.    Kualitas sumber daya manusia

2.    Penilaian status gizi

3.    Pemantauan pertumbuhan anak

4.    Survey nasional vitamin A

5.    Susenas

6.    Pemantauan Status Gizi

7.    Pengukuran TBABS

8.    Kegiatan penapisan

9.    Kegiatan di klinik

10.  Swa uji risiko KEK

11.  KMS ibu hamil

12.  Pemantauan status gizi orang dewasa

IMUNISASI HEPATITIS B

Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang sangat berbahaya, selama ini masyarakt mengenalnya dengan “sakit lever”. Penyebab penyakit Hepatitis B adalah virus Hepatitis B. Gejala penyakit Hepatitis B adalah: mual, muntah, rasa sebab diperut, urine berwarna coklat, kulit dan selaput mata berwarna kuning atau mungkin juga tanpa gejala yang jelas.

Penyakit Hepatitis B dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin. Bayi termasuk kelompok yang sering tertular penyakit Hepatitis B dari ibunya yang mengidap virus Hepatitis B.

Penyakit Hepatitis B bisa sembuh sempurna, tetapi bisa juga memburuk bahkan menyebabkan kematian. Bila penyakit terjadi pada bayi, sebagian besar akan memburuk dan hanya sebagian kecil yang sembuh. Sebaliknya bila terjadi pada anak yang lebih tua dan dewasa, sebagian kecil memburuk dan sebagian besar sembuh.

Di Indonesia terdapat cukup banyak penderita maupun pengidap virus Hepatitis B, termasuk pada ibu-ibu yang hamil/melahirkan yang tanpa gejala. Penyakit Hepatitis B pada ibu hamil tidak menular kepada bayi yang dikandung tetapi menular pada waktu proses melahirkan.

Untuk mencegah penyakit Hepatitis B pada bayi perlu diberikan imunisasi Hepatitis B pada bayi yang baru lahir, walaupun masih bermanfaat sampai 7 hari setelah lahir tetapi makin cepat (sedini mungkin) makin baik. Yang terbaik adalah segera setelah persalinan (0 hari).

Pemberian imunisasi Hepatitis B sebaiknya ditunda pada kondisi bayi:

1.    Berat badan lahir rendah (BBLR)

2.    Bayi kuning

3.    Tidak sehat atau lemah

Pemberian sentikan imunisasi Hepatitis B segera pada bayi baru lahir yang keadaan umumnya baik dan berat badan lahir normal sangat besar kegunaanya untuk melindungi bayi tesebut dari penyakit Hepatitis B dibandingkan jika diberikan lewat dari 7 hari. Untuk itu mintalah imunisasi Hepatitis B ke tempat pelayanan kesehatan segera setelah bayi lahir.

 

INGAT!!!!!!!

 

DENGAN PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B

SEDINI MUNGKIN, BAYI ANDA AKAN TERHINDAR

DARI PENYAKIT HEPATITS B (LEVER)

 

BERIKAN IMUNISASI HEPATITIS B

SEDINI MUNGKIN, USAHAKAN SEGERA

SETELAH LAHIR

 

 

Departemen Kesehatan Republik Indonesia