Just another WordPress.com site

PANDANGAN AGAMA HINDU DENGAN TRANSPLANTASI ORGAN

A.  Pengertian Transplantasi

Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi tertentu.

Transplantasi organ adalah transplantasi atau pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuh yang sama (id.wikipedia.org).

Transplantasi organ dan jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan fungsi organ tubuh yang berat (Arifin, 2009).

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa transplantasi organ adalah pemindahan seluruh atau sebagian jaringan atau organ manusia tertentu dari satu tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu tempat ke tempat yang lain pada tubuh yang sama dan bermanfaat bagi pasien.

 

B.  Jenis-Jenis Transplantasi

Menurut Arifin (2009), beberapa jenis transplantasi atau pencangkokan, baik berupa sel, jaringan maupun organ tubuh yaitu sebagai berikut:

1.   Transplantasi Autologus, yaitu perpindahan dari satu tempat ke tempat lain dalam tubuh itu sendiri.

2.   Transplantasi Alogenik, yaitu perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain yang sama spesiesnya, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga.

3.   Transplantasi Sinergik, yaitu perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain  yang identik, misalnya pada kembar identik.

4.   Transplantasi Xenograf, yaitu perpindahan dari satu tubuh lain yang tidak sama spesiesnya.

Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang hidup atau dari jenazah orang yang baru meninggal dimana meninggal sendiri didefenisikan kematian batang otak.

1.   Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti: kulit, ginjal, sumsung tulang dan darah (transfusi darah)

2.   Organ-organ yang diambil dari jenazah adalan jantung, hati, ginjal, kornea, pankreas, paru-paru dan sel otak.

 

C.  Komponen-Komponen Transplantasi

Adadua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi (nursing-transplan.blogspot.com), yaitu:

1.   Eksplantasi, yaitu usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hidup atau yang sudah meninggal.

2.   Implantasi, yaitu usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.

Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi, yaitu:

1.   Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan atau organ.

2.   Adaptasi resipien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima atau organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan atau organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat befungsi lagi.

 

D.  Metode Transplantasi

Semakin berkembangnya ilmu transplantasi modern, ditemukan metode-metode pencangkokan (nursing-transplan.blogspot.com), seperti:

1.   Pencangkokan arteria mammaria interna di dalam operasi lintas koroner oleh Dr. George E. Green.

2.   Pencangkokan dari jantung ke jantung manusia oleh Dr. Cristian Bernhard, walaupun resepiennya kemudian meninggal dalam waktu 18 hari.

3.   Pencangkokan sel-sel substansia nigra dari bayi yang meninggal ke penderita Perkinson oleh Dr. Andreas Bjornklund.

 

E.  Masalah Etika dan Moral dalam Transplantasi Organ

Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah donor hidup, jenazah dan donor mati, keluarga dan ahli waris, resepien, dokter dan pelaksana lain, dan masyarakat. Hubungan pihak-pihak itu dengan masalah etik dan moral dalam transplantasi akan dibicarakan dalam uraian dibawah ini (nursing-transplan.blogspot.com).

1.   Donor hidup

Adalah orang yang memberikan jaringan atau organnya kepada orang lain (resepien). Sebelum memutuskan menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi, baik resiko dibidang medis, pembedahan, maupun resiko untuk kehidupannya lebih lanjut sebagai kekurangan jaringan atau organ yang telah dipindahkan. Disamping itu, untuk menjadi donor, seseorang tidak boleh mengalami tekanan psikologis, Hubungan psikis dan emosi harus sudah dipikirkan oleh donor hidup tersebut untuk mencegah timbulnya masalah.

2.   Jenazah dan donor mati

Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengijinkan atau berniat dengan sungguh-sungguh untuk memberikan jaringan atau organ tubuhnya kepada orang yang memerlukan apabila ia telah meninggal kapan seorang donor itu dapat dikatakan meninggal secara wajar, dan apabila sebelum meninggal, donor itu sakit, sudah sejauh mana pertolongan dari dokter yang merawatnya. Semua itu untuk mencegah adanya tuduhan dari keluarga donor atau pihak lain bahwa tim pelaksana transplantasi telah melakukan upaya mempercepat kematian seseorang hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan.

3.   Keluarga donor dan ahli waris

Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin ataupun tekanan psikis dan emosi di kemudian hari. Dari keluarga resipien sebenarnya hanya dituntut suatu penghargaan kepada donor dan keluarganya dengan tulus.

4.   Resepien

Adalah orang yang menerima jaringan atau organ orang lain. Pada dasarnya, seorang penderita mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan yang dapat memperpanjang hidup atau meringankan penderitaanya. Seorang resepien harus berar-benar mengerti semua hal yang dijelaskan oleh tim pelaksana transplantasi.

5.   Dokter dan tenaga pelaksana lain

Untuk melakukan suatu transplantasi, tim pelaksana harus mendapat persetujuan dari donor, resepien, maupun keluarga kedua belah pihak. Ia wajib menerangkan ha-hal yang mungkin akan terjadi setelah dilakukan transplantasi sehingga gangguan psikologis dan emosi dikemudian hari dapat dihindari.

6.   Masyarakat

Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi. Kerjasama tim pelaksana dengan para cendikiawan, pemuka masyarakat, atau pemuka agama diperlukan untuk mendidik masyarakat agar lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha transplantasi.

 

F.   Aspek Hukum Transplantasi

Pengaturan mengenai transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia telah diatur dalam hukum Indonesia. Dalam peraturan tersebut diatur tentang siapa yang berwenang melakukan tindakan transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia.

Dalam PP No. 18 tahun 1981 tentang bedah mayat klinis dan transplantasi alat serta jaringan tubuh manusia tercantum pasal tentang transplantasi yaitu pasal 1, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, Pasal 17, dan Pasal 18 (Arifin, 2009). Selanjutnya dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dicantumkan beberapa pasal tentang transplantasi yaitu: Pasal 33 dan Pasal 34.

 

G.  Aspek Etik Transplantasi

Transplantasi merupakan upaya terakhir untuk menolong seseorang pasien dengan kegagalan fungdi salah satu organ tubuhnya, dari segi etik kedokteran tindakan ini wajib dilakukan jika ada indikasi, berlandaskan dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) (Arifin, 2009), yaitu: Pasal 2, Pasal 10, dan Pasal 11.

Pasal-pasal tentang transplantasi dalam PP No. 18 tahun 1981, pada hakekatnya telah mencakup aspek etik, mengenai larangan memperjual belikan alat atau jaringan tubuh untuk tujuan transplantasi atau meminta kompensasi material.

 

H.  Pandangan Agama Hindu Terhadap Transplantasi Organ

Berdasarkan prinsip-prinsip ajaran agama, dibenarkan dan dianjurkan agar umat Hindu melakukan tindakan transplantasi organ tubuh sebagai wujud nyata pelaksanaan kemanusian (manusa yajna). Tindakan kemanusiaan ini dapat meringankan beban derita orang lain. Bahkan transplantasi organ tubuh ini tidak hanya dapat dilakukan pada orang yang telah meninggal, melainkan juga dapat dilakukan pada orang yang masih hidup, sepanjang ilmu kedokteran dapat melakukannya dengan tetap mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan (Heri, 2008).

Menurut ajaran agama Hindu, transplantasi organ tubuh dapat dibenarkan dengan alasan, bahwa pengorbanan (yajna) kepada orang yang menderita, agar ia bebas dari penderitaan dan dapat menikmati kesehatan dan kebahagiaan, jauh lebih penting, utama, mulia dan luhur, dari keutuhan organ tubuh manusia yang telah meninggal. Tetapi sekali lagi, perbuatan ini harus dilakukan diatas prinsip yajna yaitu pengorbanan tulus iklas tanpa pamrih dan buka dilakukan untuk maksud mendapatkan keuntungan material. Alasan yang lebih bersifat logis dijumpai dalam kitab Bhagawadgita II.22 sebagai berikut: “Wasamsi jirnani yatha wihaya nawani grihnati naro parani, tatha sarirani wihaya jirnany anyani samyati nawani dehi” Artinya: seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru dan membuka pakaian lama, begitu pula Sang Roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tiada berguna. Kematian adalah berpisahnya Jiwatman atau roh dengan badan jasmani ini. Badan jasmani atau sthula sarira (badan kasar) terbentuk dari Panca Maha Bhuta (apah = unsur cair, prethiwi = unsur padat, teja = unsur sinar, bayu = unsur udara dan akasa = unsur eter), ibarat pakaian. Apabila badan jasmani (pakaian) sudah lama dan rusak, kita akan membuangnya dan menggantikannya dengan pakaian baru (Heri, 2008).

Prinsip kesadaran utama yang diajarkan dalam agama Hindu adalah bahwa badan identitas kita yang sesungguhnya bukanlah badan jasmani ini, melainkan adalah Jiwatman (roh). Badan jasmani merupakan benda material yang dibangun dari 5 zat (Panca Maha Bhuta) dan akan hancur kembali menyatu kedalam makrokosmos dan tidak lagi mempunyai nilai guna. Sedangkan Jiwatma adalah kekal, abadi, dia tidak mati pada saat badan jasmani itu mati, senjata tidak dapat melukaiNya. Wejangan Sri Kresna kepada Arjuna dalam Bhagawadgita: “Engkau tetap kecil karena sepanjang waktu engkau menyamakan dirimu dengan raga jasmani. Engkau berpikir, “Aham Dehasmi”, ‘aku adalah badan’, pikiran ini menyebabkan engkau tetap kecil. Tetapi majulah dari “aham dehasmi ke aham jiwasmi”, dari aku ini raga ke aku ini jiwa, percikan tuhan” (Heri, 2008).

Berkat kemajuan dan bantuan teknologi canggih dibidang medis (kedokteran), maka system pencangkokan organ tubuh orang yang telah meninggalpun masih dapat dimamfaatkan kembali bagi kepentingan kemanusiaan. Dialog spiritual Sri Krisna dengan Arjuna dalam kitab Bhagawadgita dapat ditarik suatu makna bahwa badan jasmani ini diumpamakan sebagai pakaian jiwatman. oleh karena itu ajaran Hindu tidak melarang umatnya untuk melaksanakan transplantasi organ tubuh dengan dasar yajna (pengorbanan tulus iklas dan tanpa pamrih) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manusia. Demikian pandangan agama Hindu terhadap transplantasi organ tubuh sebagai salah satu bentuk pelaksanaan ajaran Panca Yajna terutama Manusa Yajna (Heri, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s