Just another WordPress.com site

IMUNISASI

A.      Pengertian Imunisasi

Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan  penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan.

Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal untuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan.

Imunisasi lanjutan adalah imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat kekebalan diatas ambang perlindungan atau untuk memperpanjang masa perlindungan.

Imunisasi khusus adalah imunisasi yang diberikan kepada penyakit tertentu, seperti:

1.    Imunisasi yang menjadi program yaitu meningitis, demam kuning, dan rabies.

2.    Imunisasi yang tidak masuk kedalam program seperti Hepatitis A, Influensa, Haemophilus influenzae tipe b, Kolera, Japanese encephalitis, Tifus abdominalis, Pneumoni pneumokokus, Shigellosis, Rubbella, Varicella, Parotitis epidemica, Rotavirus.

Bulan Imunisasi anak sekolah yang selanjutnya disebut dengan BIAS adalah bentuk operasional dari imunisasi lanjutan pada anak sekolah tingkat dasar yang dilaksanakan pada bulan tertentu setiap tahunnya.

B.      Tujuan Imunisasi

1.    Tujuan jangka pendek

Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I).

2.    Tujuan jangka panjang

Eradikasi atau eleminasi suatu penyakit

C.      Sasaran Imunisasi

Sasaran berdasarkan usia yang di imunisasi:

1.    Imunisasi rutin

a.     Bayi (dibawah satu tahun)

b.    Wanita usia subur (WUS) ialah wanita berusia 15-39 tahun, termasuk ibu hamil (Bumil) dan calon pengantin (Catin).

c.     Anak usia sekolah tingkat dasar.

2.    Imunisasi tambahan

a.     Bayi dan anak

Sasaran berdasarkan tingkat kekebalan yang ditimbulkan:

1.    Imunisasi dasar

a.     Bayi

2.    Imunisasi lanjutan

a.     Anak usia sekolah tingkat dasar

b.    Wanita usia subur

D.      Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Pemberian Imunisasi

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Indonesia adalah:

1.    Difteri

Disebabkan oleh bakteri Corynebakterium Diphtheriae. Penyebarannya melalui kontak fisik dan pernafasan. Gejala awal adalah radang tenggorokan, hilang nafsu makan dan demam ringan. 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Dapat menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernafasan yang berakibat kematian.

2.    Pertusis

Disebut juga batuk rejan atau batuk 100 hari, adalah penyakit pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Penyebaran melalui tetesan-tetesan kecil yang keluar dari batuk atau bersin. Gejala penyakit adalah pilek, mata merah, bersin, demam dan batuk ringan yang lama-kelaman menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasinya adalah pneumonia bacterialis yang dapat menyebabkan kematian.

3.    Tetanus

Disebabkan oleh Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin. Tidak menyebar dari orang ke orang tetapi melalui kotoran yang masuk kedalam luka yang dalam. Gejala awal adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam. pada bayi terdapat juga berhenti menetek (sucking) antara 3-28 hari setelah lahir. Berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku. Komplikasinya adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia, dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian.

4.    Tuberkulosis

Disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosa. Menyebar melalui pernafasan lewat bersin atau batuk. Gejala awal adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat pada malam hari. Selanjutnya batuk terus-menerus, nyeri dada dan mungkin batuk darah. Gejala tergantung pada organ yang diserang. Dapat menyebabkan kelemahan dan kematian.

5.    Campak

Disebabkan oleh virus Myxovirus Viridae Measles. Disebarkan melalui udara sewaktu droplet  bersin atau batuk dari penderita. Gejala awal adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjungtivitis. Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki. komplikasinya adalah diare hebat, radang telinga dan infeksi saluran nafas.

6.    Poliomyelitis

Penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio tipe 1,2 atau 3. Secara klinis adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (Acute Flaccid Paralysis/AFP). Penyebaran melaui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian terjadi jika otot-otot pernafasan terinfeksi dan tidak segera ditangani.

7.    Hepatitis B

Penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis B yang merusak hati. Penyebarannya dari darah dan produknya melalui suntikan yang tidak aman, melalui tranfusi darah, dari ibu ke bayi selama proses persalinan atau melalui hubungan seksual. Pada anak sering kali subklinis dan tidak menimbulkan gejala. Gejala infeksi akut adalah merasa lemah, gangguan perut, dan gejala lain seperti flu. Urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat. Warna kuning juga dapat dilihat pada mata ataupun kulit. Bisa menjadi kronis dan menimbulkan cirrhosis hepatis, kanker hati, dan menimbulkan kematian.

E.      Jenis Dan Sifat Vaksin

Vaksin adalah suatu produk biologis yang terbuat dari kuman, komponen kuman atau racun kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dan berguna untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang. Vaksin-vaksin yang saat ini dipakai dalam program imunisasi rutin di Indonesia adalah:

1.    Vaksin BCG (Bacilluus Calmette Guerine)

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tuberkulosa

Cara pemberian atau dosis:

Dosis 0,05 ml, sebanyak 1 kali secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada umur 0-11 bulan

Kontra indikasi:

Adanya penyakit kulit yang berat atau menahun seperti: eksim, furunkulosis, dan sebagainya. Mereka yang sedang menderita TBC.

Efek samping:

Tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum, seperti demam. 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan kemerahan ditempat suntikan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi luka. Tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan an meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya.

2.    Vaksin Hepatitis B

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.

Cara pemberian atau dosis:

Dosis 1 buah HB PID secara intramuskuler pada anterolateral paha, diberikan sebanyak 1 dosis pada umur 0-7 hari.

Kontra indikasi:

Hipersensitif terhadap komponen-komponen vaksin. Tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang.

Efek samping:

Reaksi lokal seperti rasa sakit kemerahan dan pembengkakan disekitar tempat penyuntikan, bersifat ringan dan hilang setelah 2 hari.

3.    Vaksin DPT/HB

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan hepatitis B.

Cara pemberian dan dosis:

Dosis 0,5 ml secara intramuskuler pada paha, diberikan sebanyak 3 kali pada usia 2-11 bulan, dosis pertama pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan).

Kontra indikasi:

Gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontra indikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan DT.

Efek samping:

Bersifat sementara seperti lemas, demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi, iritabilitas dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi.

4.    Vaksin Polio (Oral polio Vaccine = OVP)

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.

Cara pemberian dan dosis:

Diberikan secara oral, 1 dosis adalah 2 tetes, sebanyak 4 kali (dosis) dengan interval 4 minggu (1 bulan) setiap dosisnya pada umur 0-11 bulan.

Kontra indikasi:

Pada penderita immune deficiency.

Efek samping:

Pada umumnya tidak terdapat efek samping. Paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (kurang dari 0,7:1.000.000; Bull WHO 66: 1988).

5.    Vaksin Campak

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak

Cara pemberian dan dosis:

Dosis 0,5 ml secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-11 bulan dan ulangan pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD).

Kontra indikasi:

Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma.

Efek samping:

Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi.

6.    Vaksin TT

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap tetanus

Cara pemberian dan dosis:

Disuntikan 0,5 ml di lengan atas pada wanita usia subur sampai mencapai status T5 (imunisasi TT 5 dosis) dihitung mulai dari imunisasi dasar pada bayi, BIAS, TT Catin dan TT ibu hamil.

Kontra indikasi:

Gejala-gejala berat karena dosis pertama TT.

Efek samping:

Jarang terjadi dan bersifat ringan, seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan kadang-kadang gejala demam.

7.    Vaksin DT

Indikasi:

Untuk pemberian kekebalan simultan terhadap difteri dan tetanus

Cara pemberian dan dosis:

Dosis 0,5 ml secara subkutan dalam pada lengan, diberikan pada anak usia 6-7 tahun.

Kontra indikasi:

Gejala-gejala berat karena dosis pertama DT

Efek samping:

Gejala-gejala seperti lemas dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, dan kadang-kadang gejala demam.

E.      Jadwal Pemberian Imunisasi

1.    Imunisasi Dasar Wajib Pada Bayi

UMUR

JENIS IMUNISASI

0-7 hari

HB Unijeck

BCG

Polio 1

 

 

0-1 bulan

 

 

 

2 bulan

 

 

Polio 2

DPT/HB 1

 

3 bulan

 

 

Polio 3

DPT/HB 2

 

4 bulan

 

 

polio 4

DPT/HB 3

 

9 bulan

 

 

 

 

Campak

2.    Imunisasi Pada Wanita Usia Subur

Imunisasi

Pemberian

Imunisasi

Interval Minimal

Masa

Perlindungan

DPT

  1. T 1
  1. T 2

4 minggu setelah TT 1

3 tahun

DT kelas 1

  1. T 3

6 minggu setelah TT 2

5 tahun

TT kelas 2

  1. T 4

1 tahun setelah TT 3

10 tahun

TT kelas 3

  1. T 5

1 tahun setelah TT 4

25 tahun

3.    Imunisasi Pada Anak Sekolah

Siswa

Jenis Imunisasi

Dosis

Kelas 1

Campak

0,5 ml

DT

0,5 ml

Kelas 2

TT

0,5 ml

Kelas 3

TT

0,5 ml

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s