Just another WordPress.com site

TINJAUAN TEORI DAN TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN KEP

A. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar Keluarga

a. Pengertian keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1998 dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 68).
Keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi, atau perkawinan (WHO, 1969 dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 67).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Marilyn M. Friedmen, 1998 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 179).

Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi, saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing, dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya,1989 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 179).

b. Struktur keluarga
Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam (Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso 2009, hal 68), diantaranya adalah :
1) Patrilineal.
Keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
2) Matrilinel.
Keluarga sedarah yang terdiri atas sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3) Matrilokal.
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4) Patrilokal.
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
5) Keluarga kawinan.
Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.

c. Tipe keluarga
Tipe keluarga menurut Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso (2009, hal 70), antara lain :
1) Tradisional nuklear.
Keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang tingal dalam satu rumah ditetapkan olah saksi-saksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja diluar rumah.
2) Extended family.
Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
3) Reconstituted nuklear.
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami istri, tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja diluar rumah.
4) Middle age/aging couple.
Suami sebagai pencari uang, istri dirumah/kedua-duanya bekerja dirumah, anak-anak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/perkawinan/meniti karier.
5) Dyadic nuklear.
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya atau salah satu bekerja diluar rumah.
6) Single parent.
Satu orang tua sebagai akibat dari perceraian/kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah/diluar rumah.
7) Dual carrier.
Suami istri atau keduanya berkarier dan tanpa anak.
8) Commuter married.
Suami istri/keduanya orang berkarier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
9) Single adult.
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk menikah.
10) Three generation.
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
11) Institutional.
Anak-anak atau orang dewasa tinggal dalam suatu panti-panti.
12) Comunal.
Satu rumah terdiri atas dua atau lebih pasangan yang monogami dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
13) Group marriage.
Satu perumahan terdiri atas orang tua dan keturunannya didalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu adalah menikah dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
14) Unmaried parent and child.
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anaknya diadopsi.
15) Cohibing cauple.
Dua orang/satu pasangan yang tinggal bersama tanpa pernikahan.

d. Tingkat perkembangan keluarga
Tingkat perkembangan keluarga terbagi menjadi beberapa tahap atau kurun waktu tertentu, pada setiap tahapnya memiliki tugas perkembangan yang harus dipenuhi (Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso 2009, hal 86), yaitu :
1) Tahap I pasangan baru atau keluarga baru (berginning family).
Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu, yaitu suami dan istri yang membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing.
Tugasnya adalah :
a) Membina hubungan intim dan kepuasan bersama.
b) Menetapkan tujuan bersama.
c) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan kelompok sosial.
d) Merencanakan anak (KB).
e) Menyesuaikan diri dengan kehamilan dan mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua.
2) Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing family).
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan (2,5 tahun).
Tugasnya adalah :
a) Persiapan menjadi orang tua.
b) Membagi peran dan tanggung jawab.
d) Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah yang menyenangkan.
e) Mempersiapkan biaya atau dana child bearing.
f) Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita.
g) Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
3) Tahap III keluarga dengan anak prasekolah (families with preschool).
Dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.
Tugasnya adalah :
a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti : kebutuhan tempat tinggal, privasi, dan rasa aman.
b) Membantu anak untuk bersosialisasi.
c) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.
d) Mempertahankan hubungan yang sehat, baik didalam maupun diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan, dan anak (tahap paling repot).
f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
g) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak.
4) Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah (families with school children).
Dimulai pada saat anak yang tertua memasuki sekolah pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.
Tugasnya adalah :
a) Memberi perhatian tentang kegiatan sosial anak, pendidikan, dan semangat belajar.
b) Tetap mempertahankan hubungan yang harmonis dalam perkawinan.
c) Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
d) Menyediakan aktifitas untuk anak.
e) Menyesuaikan pada aktifitas komunitas dengan mengikutsertakan anak.
5) Tahap V keluarga dengan anak remaja (families with teenagers).
Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir sampai pada usia 19-20 tahun, pada saat anak meninggalkan rumah orang tuanya.
Tugasnya adalah :
a) Memberi kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya.
b) Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
c) Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan oang tua, hindari perdebatan, kecurigaan, dan permusuhan.
d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
6) Tahap VI keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching center families).
Dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah.
Tugasnya adalah :
a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b) Mempertahankan keintiman pasangan.
c) Membantu orang tua suami atau istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua.
d) Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian anaknya.
e) Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
f) Berperan suami, istri, kakek, dan nenek.
g) Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya.
7) Tahap VII keluarga usia pertengahan (middle age families).
Dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal.
Tugasnya adalah :
a) Merpertahankan kesehatan.
b) Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam arti mengolah minat sosial dan waktu santai.
c) Memulihkan hubungan antara generasi muda dengan generasi tua.
d) Keakraban dengan pasangan.
e) Memelihara hubungan atau kontak dengan anak dan keluarga.
f) Persiapan masa tua atau pensiun dan meningkatkan keakraban pasangan.
8) Tahap VIII keluarga usia lanjut.
Tahap terakhir perkembangan keluarga dimulai pada saat salah satu pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal, sampai keduanya meninggal.
Tugasnya adalah :
a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
b) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik, dan pendapatan.
c) Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
d) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
e) Melakukan file review.
f) Menerima kematian pasangan, kawan, dan mempersiapkan kematian.

e. Peran dan fungsi keluarga
Peran formal dalam keluarga (Nasrul Effendi, 1998 dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 184), yaitu :
1) Peran sebagai ayah.
Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberi rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, anggota kelompok sosial, serta anggota masyarakat dan lingkungan.
2) Peran sebagai ibu.
Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya berperan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan salah satu anggota kelompok sosial, serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan disamping dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.
3) Peran sebagai anak
Anak melaksanakan peran psikososial sesuai dengan tingkat perkembangan, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Friedman (1998, dalam Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayatin dan Bambang Adi Santoso, 2009, hal 76) mengidentifikasi lima fungsi dasar keluarga, diantaranya adalah :
1) Fungsi afektif (The Affective Function).
Berkaitan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan basis kekuatan dari keluarga, berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.
2) Fungsi sosialisasi (The Socialitazion Function).
Suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimana individu secara kontinu mengubah perilaku mereka sebagai respons terhadap situasi yang terpola secara sosial yang mereka alami. Anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya, serta perilaku melalui hubungan dan interaksi dalam keluarga, sehingga individu mampu berperan dalam masyarakat.
3) Fungsi reproduksi (The Reproductive Function).
Berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4) Fungsi ekonomi (The Economic Function).
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan tempat mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarga.
5) Fungsi perawatan keluarga/pemeliharaan kesehatan (The Health Care Function).
Untuk mempertahankan keadaan kesehatan keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.

f. Tugas keluarga
Tugas kesehatan keluarga menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1998, dalam Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 185) adalah sebagai berikut :
1) Mengenal masalah kesehatan.
2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
4) Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat.
5) Merujuk pada fasilitas kesehatan masyarakat.

g. Prinsip-prinsip keperawatan keluarga
Beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga (Ferry Efendi dan Makhfudli, 2009, hal 182), antara lain :
1) Keluarga sebagai unit atau satu kesatuan dalam pelayanan kesehatan.
2) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, sehat merupakan tujuan utama.
3) Asuhan keperawatan yang diberikan sebagai sarana dalam mencapai peningkatan kesehatan keluarga.
4) Dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, perawat melibatkan peran serta aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dan kebutuhan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya.
5) Lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang bersifat promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
6) Dalam memberikan asuhan kesehatan keluarga, perawat memanfaatkan sumber daya keluarga semaksimal mungkin untuk kepentingan kesehatan keluarga.
7) Sasaran asuhan kesehatan keluarga adalah keluarga secara keseluruhan.
8) Pendekatan yang dipergunakan dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah pendekatan pemecahan masalah dengan mengunakan proses keperawatan.
9) Kegiatan utama dalam memberikan asuhan keperawatan kesehatan keluarga adalah penyuluhan kesehatan dan asuhan keperawatan kesehatan dasar atau perawatan dirumah.
10) Diutamakan terhadap keluarga yang termasuk kelompok resiko tinggi.

2. Konsep Dasar KEP
a. Pengertian
Kurang Energi Protein adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam jangka waktu yang lama. Ciri fisik KEP adalah bila berat badan berada dibawah standar normal. (Depkes RI, 2009, hal 59).
Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi (BB/TB) + 2 SD baku WHO-NCHS.
b) Gizi baik : BB/U > + 2 SD s/d + 2 SD baku WHO-NCHS.
c) Gizi kurang : BB/U < + 2 SD s/d – 3 SD baku WHO-NCHS
d) Gizi buruk : BB/U < – 3 SD baku WHO-NCHS

2) Klasifikasi KEP BB/U menurut baku standar Menteri Kesehatan RI (2010)
a) KEP ringan bila berat badannya -3SD – <-2SD baku rujukan BB/U dalam pedoman standar atropometri kesehatan gizi anak. Pada KMS berat badan anak berada pada pita warna kuning atau antara pita warna hijau dan garis merah.
b) KEP sedang-berat bila berat badannya <-3SD baku rujukan BB/U dalam pedoman standar atropometri kesehatan gizi anak. Pada KMS tampak berat badan anak berada di bawah garis merah.
3) Secara klinis KEP berat terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik-kwashiorkor (Merryana Adriani dan Bambang Wirjatmadi, 2012, hal 19).
a) KEP berat tipe marasmus yang ditemukan dengan :
(1) Otot lemah, lunak.
(2) Merasa lapar dan cengeng.
(3) Defisiensi mikronutrien yang berhubungan dengan pola diet setempat .
(4) Tidak ada jaringan lemak bawah kulit.
(5) Wajah tampak tua (monkey face).
(6) Gagalnya pertumbuhan.
(7) Tidak adanya edema.
(8) Sering terjadi pada bayi 2,0 SD baku WHO NCHS) Normal (>2,0 SD baku WHO NCHS) Gemuk (>2,0 SD baku WHO NCHS)
Gizi baik (-2,0 SD s/d +2,0 SD
Gizi kurang (<-2,0 SD)
Gizi buruk (<-3,0 SD)

Pendek/stntewd <-2,0 SD Normal (-2,0 SD s/d +2,0 SD)
Kurus/wasted (<-2,0 SD s/d 3,0 SD)
Sangat kurus (<-3 SD)

3) Cara klinis
Riwayat medis dan pengujian fisik merupakan metode klinis yang digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda yang berhubungan dengan KEP seperti : marasmus, kwashiokor, dan marasmus-kwashiokor.

f. Penatalaksanaan
Pengobatan KEP :
1) Pada penderita KEP ringan, dapat dilakukan dengan mengubah menu makanan dan suplementasi.
2) Pada penderita KEP berat, dilakukan tindakan hospitalisasi.
Kegiatan dalam penatalaksanaan gizi buruk yaitu dengan :
1) Pengkajian satus gizi, yang dilakukan secara :
a) Klinis
b) Antropometri
c) Laboratorium
d) Riwayat atau anamnesa gizi
e) Evaluasi asupan makanan selama perawatan
2) Pemberian diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), dimana pemberian makanan disesuaikan dengan kondisi penderita, dapat diberikan dalam bentuk makanan biasa maupun enteral.
Adapun makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita KEP adalah bahan makanan yang mengadung Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), meliputi :
1) Bahan makanan yang dianjurkan, yaitu :
a) Sumber karbohidrat : nasi, roti, mie, makaroni, hasil olah tepung-tepungan, dodol, ubi, dan karbohidrat sederhana (gula pasir).
b) Sumber protein : daging sapi, ayam, ikan, telur, susu, dan hasil olah (es krim dan keju).
c) Sumber protein nabati : kacang-kacangan dan hasil olahannya (tempe dan tahu).
d) Sayuran : semua jenis sayuran, direbus, dikukus, atau ditumis.
e) Buah-buahan : semua jenis buah segar, buah kaleng, buah kering, dan jus buah.
f) Lemak dan minyak : minyak goreng, mentega, margarin, dan santan encer.
g) Minuman : madu, sirup, teh dan kopi encer.
h) Bumbu : bumbu tidak tajam (bawang merah/putih, laos, salam, dan kecap).
2) Bahan makanan yang tidak dianjurkan yaitu :
a) Sumber protein, sumber protein nabati dan sayuran : dimasak dengan banyak minyak atau kelapa/santan kental.
b) Lemak dan minyak : santan kental.
c) Minuman : minuman rendah energi.
d). Bumbu : bumbu yang tajam (Atikah Proverawati dan Erna Kusuma Wati, 2011, hal. 41-42).

g. Pencegahan KEP
Langkah-langkah pencegahan KEP menurut Merryana Adriani dan Bambang Wirjatmadi (2012, hal 23-24) seperti :
a) Pemberian ASI secara baik dan tepat disertai dengan pengawasan BB secara teratur dan terus menerus.
b) Menghindari pemberian makanan buatan kepada anak untuk mengganti ASI sepanjang ibu masih mampu menghasilkan ASI, terutama pada usia dibawah 4 bulan.
c) Dimulainya pemberian makanan tambahan mengandung berbagai zat gizi, secara lengkap sesuai kebutuhan, guna menambah ASI mulai bayi usia mencapai lima bulan.
d) Pemberian kekebalan melalui imunisasi guna melindungi anak dari kemungkinan menderita penyakit infeksi.
e) Melindungi anak dari kemungkinan menderita diare dan kekurangan cairan dengan jalan memelihara kebersihan, menggunakan air masak untuk minum, dan mencuci alat pembuat susu.
f) Mengatur jarak kehamilan ibu agar ibu cukup waktu untuk merawat dan mengatur makanan bayinya terutama pemberian ASI.
g) Meningkatkan pendapatan keluarga serta diimbangi dengan penggunaan uang yang terarah dan efesien.
h) Meningkatkan intensitas komunikasi informasi edukasi (KIE) kepada masyarakat, terutama para ibu mengenai pentingnya konsumsi zat gizi yang diatur sesuai kebutuhan.

3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga
a. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana seorang perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga yang dibinanya. Tahap ini merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan keluarga (Lyer et al.,1996, dalam Setiadi, 2008).
Cara pengumpulan data tentang keluarga dapat dilakukan antara lain dengan :
1) Wawancara
2) Pengamatan
3) Studi dokumentasi
4) Pemeriksaan fisik.
Pada kegiatan pengkajian ada beberapa tahap yang perlu dilakukan yaitu:
1) Membina hubungan yang baik.
Hubungan yang baik antar perawat dan klien (keluarga) merupakan modal utama pelaksanaan asuhan keperawatan..
2) Pengkajian awal.
Pengkajian ini terfokus sesuai data yang di peroleh dari unit pelayanan kesehatan.
3) Pengkajian lanjutan (tahap kedua).
Pengkajian lanjutan adalah tahap pengkajian untuk memperoleh data yang lebih lengkap sesuai masalah kesehatan keluarga yang berorientasi pada pengkajian awal (Suprajitno, 2004, hal. 29).
Hal-hal yang perlu dikaji pada tahap pengkajian adalah sebagai berikut :
1) Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data yang perlu dikaji adalah :
a) Data umum
(1) Identitas kepala keluarga
(2) Komposisi keluarga
(3) Genogram
(4) Tipe keluarga
(5) Latar belakang budaya (etnis)
(6) Agama
(7) Status sosial ekonomi keluarga
(8) Aktivitas rekreasi keluarga
b) Tahap dan riwayat perkembangan keluarga
(1) Tahap perkembangan saat ini
(2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
(3) Riwayat keluarga sebelumnya
c) Data lingkungan
(1) Karakteristik rumah
(2) Karakteristik lingkungan dan komunitas
(3) Mobilitas geografis keluarga
(4) Perkumpulan keluarga dan interaksi sosial keluarga
(5) Sistem pendukung atau jaringan sosial keluarga
d) Struktur keluarga
(1) Pola komunikasi
(2) Struktur kekuasaan
(3) Struktur peran
(4) Nilai dan norma keluarga
e) Fungsi keluarga
(1) Fungsi afektif
(2) Fungsi sosialisasi
(3) Fungsi perawatan keluarga
f) Pemeriksaan fisik
g) Koping keluarga
(1) Stesor jangka pendek dan jangka panjang
(2) Kemampuan keluarga untuk berespon terhadap situasi atau stesor
(3) Penggunaan strategi keluarga
(4) Strategi adaptasi disfungsional
2) Analisa Data
Cara analisa data adalah :
a) Validasi data, yaitu meneliti kembali data yang terkumpul dalam format pengkajian
b) Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan biopsiko-sosial dan spiritual
c) Membandingkan dengan standar
d) Membut kesimpulan dari kesenjangan yang di timbulkan
3) Perumusan masalah
Komponen diagnosis keperawatan keluarga (Setiadi, 2008, hal. 49-50) meliputi :
a) Masalah (problem)
Daftar diagnosa keperawatan keluarga berdasarkan Nanda (1995, dalam Setiadi, 2008, hal. 50-51) adalah sebagai berikut :
(1) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah lingkungan.
(a) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (higiene lingkungan).
(b) Resiko terhadap cedera.
(c) Resiko terjadi infeksi (penularan penyakit).
(2) Diagnosa keperawatan keluarga pada masalah struktur komunikas.
(a) Komunikasi keluarga disfungsional.
(3) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah struktur peran.
(a) Berduka dan antisipasi.
(b) Berduka disfungsional.
(c) Isolasi sosial.
(d) Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit terhadap keluarga).
(e) Potensial peningkatan menjadi orang tua.
(f) Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua).
(g) Perubahan penampilan peran.
(h) Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah.
(i) Gangguan citra tubuh.
(4) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif.
(a) Perubahan proses keluarga.
(b) Perubahan menjadi orang tua.
(c) Berduka yang diantisipasi.
(d) Koping keluarga yang tidak efektif, menurun.
(e) Koping keluarga yang tidak efektif, ketidakmampuan.
(f) Resiko terhadap tindak kekerasan.
(5) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi sosial.
(a) Perubahan proses keluarga.
(b) Perilaku mencari bantuan kesehatan.
(c) Konflik peran orang tua.
(d) Perubahan menjadi orang tua.
(e) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan.
(f) Perubahan pemeliharaan kesehatan.
(g) Kurang pengetahuan.
(h) Isolasi sosial.
(i) Kerusakan interaksi sosial.
(j) Resiko terhadap tindakan kekerasan
(k) Ketidakpatuhan.
(l) Gangguan identitas diri
(6) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi perawatan kesehatan.
(a) Perubahan pemeliharaan kesehatan.
(b) Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan.
(c) Perilaku mencari pertolongan kesehatan.
(d) Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik atau pengobatan keluarga.
(e) Resiko terhadap penularan penyakit.
(7) Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah koping.
(a) Potensial peningkatan koping keluarga.
(b) Koping keluarga tidak efektif, menurun.
(c) Koping keluarga tidak efektif, ketidakmampuan.
(d) Resiko terhadap tindak kekerasan.
b) Penyebab (Etiologi)
c) Tanda (sign)
Perumusan diagnosa keperawatan keluarga dapat dibedakan menjadi 5 (lima) katagori, yaitu :
a) Aktual (terjadi defisit/gangguan kesehatan)
b) Resiko (ancaman kesehatan)
c) Wellness (keadaan sejahtera)
d) Sindrom
4) Prioritas diagnosa keperawatan
Untuk menentukan prioritas terhadap diagnosa keperawatan keluarga dihitung dengan menggunakan skala Baylon dan Maglaya (1978, dalam Setiadi, 2008, hal. 56-57).
a) Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat.
b) Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan dengan bobot.
c) Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria, skor tetinggi adalah 5, sama dengan seluruh bobot.

TABEL 2
SKORING MASALAH KEPERAWATAN
No Kriteria Nilai Bobot
1 Sifat masalah
a. Tidak/kurang sehat
b. Ancaman kesehatan
c. Keadaan sejahtera 3
2
1 1
2 Kemungkinan masalah dapat diubah
a. Mudah
b. Sebagian
c. Tidak dapat 2
1
0 2
3 Potensial masalah untuk dicegah
a. Tinggi
b. Cukup
c. Rendah 3
2
1 1
Menonjolnya masalah
a. Masalah berat, harus segera ditangani
b. Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani
c. Masalah tidak dirasakan 2
1

0 1
TOTAL 5

b. Perencanaan
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam proses keperawatan keluarga yang meliputi penentuan tujuan perawatan (jangka panjang/pendek), penetapan standar dan kriteria serta menentukan perencanaan untuk mengatasi masalah keluarga (Setiadi, 2008, hal. 61-62).
1) Penetapan tujuan
Bila dilihat dari sudut jangka waktu, maka tujuan perawatan keluarga dapat dibagi menjadi :
a) Tujuan jangka panjang
Menekankan pada perubahan perilaku dan mengarah kepada kemampuan mandiri.
b) Tujuan jangka pendek
Ditekankan pada keadaan yang bisa dicapai setiap harinya yang dihubungkan dengan keadaan yang mengancam kehidupan.
2) Penetapan kriteria standar
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
a) Berfokus pada keluarga.
b) Singkat dan jelas.
d) Dapat diobservasi dan diukur.
e) Realistis.
f) Ditentukan oleh perawat dan keluarga.
3) Pembuatan rencana keperawatan
Fokus dari intervensi keperawatan keluarga antara lain meliputi kegiatan yang bertujuan :
a) Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan.
b) Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan keluarga yang tepat.
c) Memberi kepercayaan diri dalam merawat anggota yang sakit.
d) Membantu keluarga untuk menemukan cara bagaimana membuat lingkungan menjadi sehat.
e) Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada.

c. Pelaksanaan
Implementasi atau tindakan adalah pengelolaan atau perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun pad tahap perncanaan. Pada tahap ini perawat mengasuh keluarga sebaiknya tidak bekerja sendiri, tapi perlu melibatkan secara integrasi semua profesi kesehatan yang menjadi tim perawatan kesehatan di rumah (Setiadi, 2008, hal. 66).
Ada 3 tahap dalam tindakan keperawatan keluarga, yaitu :
1) Tahap 1 : Persiapan
2) Tahap 2 : Intervensi
a) Independent
(1) Tindakan diagostik
(2) Tindakan terapeutik
(3) Tindakan edukatif
(4) Tindakan merujuk
(b) Interdependent
(c) Dependent
3) Tahap 3 : Dokumentasi

d. Evaluasi
Perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan keluarga dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan keluarga dalam mencapai tujuan (Setiadi, 2008, hal. 69-71).
1) Tahap evaluasi
Evaluasi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
a) Evaluasi sumatif
Evaluasi jenis ini di kerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang di alami oleh keluarga. Format yang di pakai adalah SOAP.
b) Evaluasi formatif
Evaluasi jenis ini di kerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan di capai. Bila terdapat kesenjangan di antara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu di tinjau kembali, Agar dapat di data, masalah atau rencana yang di modifikasi.
2) Metode evaluasi
Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain adalah :
a) Observasi langsung
b) Wawancara
c) Memeriksa laporan
d) Latihan simulasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s